PEMASARAN BERWAWASAN SOSIAL

               Menurut Trioso Purnawarman pemasaran adalah suatu proses sosial dan manajerial di mana individu dan kelompok mendapatkan kebutuhan dan keinginan mereka dengan menciptakan, menawarkan dan bertukar sesuatu yang bernilai satu sama lain. Definisi ini berdasarkan pada konsep inti, yaitu : kebutuhan, keinginan dan permintaan; produk, nilai, biaya dan kepuasan; pertukaran, transaksi dan hubungan; pasar, pemasaran dan pemasar.

(http://www.ekafood.com/strategipemasaran4.htm)

Adapun tujuan pemasaran adalah untuk mengenal dan memahami pelanggan sedemikian rupa sehingga produk cocok dengannya dan otomatis terjual karena sesuai. Idealnya pemasaran menyebabkan pelanggan siap membeli sehingga yang tinggal hanyalah bagaimana membuat suplly product atau mengusahakan agar produk selalu tersedia. Sedangkan proses pemasaran terdiri dari analisa peluang pasar, meneliti dan memilih pasar sasaran, merancang strategi pemasaran, merancang program pemasaran, dan mengorganisir, melaksanakan serta mengawasi usaha pemasaran.

Pemasaran berwawasan sosial dapat juga dikatakan sebagai proses pemasaran dengan berdasar pandangan pada aspek – aspek sosial. Seperti yang telah dijelaskan di atas maksud dari berwawasan sosial adalah pemasar dan individu atau kelompok mampu untuk saling melengkapi, dengan kata lain pemasar menciptakan penawaran kepada masyarakat untuk memenuhi kebutuhan yang diinginkan kemudian masyarakat mendapat kepuasan akan sesuatu yang ditawarkan oleh pemasar. Dengan demikian secara otomatis terbentuklah hubungan kerja sama sosial yang saling menguntungkan antara masyarakat dan pemasar. Dengan adanya keterkaitan ini diharapkan baik dari pemasar maupun pihak konsumen dapat saling menumbuhkan kepekaan sosial yang nantinya ditujukan untuk mencapai pemenuhan kebutuhan yang diharapkan.

CSR ( Corporate Social Responsibility

Kelangsungan suatu usaha tak hanya ditentukan oleh tingkat keuntungan, tapi juga terkait dengan tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR). Apa yang terjadi ketika banyak perusahaan yang didemo, dihujat, bahkan dirusak oleh masyarakat sekitar lokasi pabrik ? Bila dikaji lebih mendalam, boleh jadi salah satu penyebabnya adalah kurangnya perhatian dan tanggung jawab manajemen dan pemilik perusahaan terhadap masyarakat maupun lingkungan di sekitar lokasi perusahaan tersebut. Investor hanya mengambil untung dan mengeksploitasi sumber daya alam yang ada di daerah tersebut, tanpa memperhatikan faktor akibat terhadap lingkungan di sekitarnya. Selain itu, nyaris tidak ada atau sangat sedikit keuntungan perusahaan yang dikembalikan kepada masyarakat. Justru mereka menjadi terpinggirkan oleh keberadaan perusahaan. Seperti kasus yang sedang hangat menjadi pembicaraan saat ini yaitu mengenai usaha penutupan PT. Freeport oleh masyarakat sekitar.

 

Masyarakat menilai perusahaan itu tidak meperdulikan kesejahteraan mereka. Sepintas kita lihat memang perusahaan tersebut sangatlah maju tetapi masyarakat sekitar tetap saja kurang dan tidak sejahtera. Kita hanya mengambil PT. Freeport sebagai contoh kecil sedangkan di Indonesia, kami rasa masih banyak perusahaan lain yang kesadaran akan tanggung jawab sosial perusahaan masih sangat kecil.

 

Memang sampai saat ini belum ada pengertian tunggal mengenai Corporate Social Respinsibility (CSR). Tapi jika kita tarik benang merahnya, CSR merupakan bagian stategi bisnis korporasi yang berkaitan dengan kelangsungan usaha perusahaan dalam jangka panjang. Di Indonesia sendiri, definisi dan praktik CSR masih dalam wacana.

PENDAHULUAN

 

Perkembangan pendekatan dalam manajemen pemasaran dilandasi oleh konsep dari pimpinan perusahaan/ organisasi lainnya dalam menjalankan kebijakan dan strategi pemasaran yang akan dilakukannya. Hal ini karena pemasaran merupakan suatu proses sosial dan manajerial dimana individu-individu dan kelompok-kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan melalui penciptaan, penawaran dan pertukaran produk-produk yang bernilai baik.

 

Dari perkembangan pemikiran tentang pemasaran terdapat 5 konsep yang mendasari pendekatan yang terdapat dalam manajemen pemasaran. Pemikiran inilah yang melandasi dan mengarahkan usaha-usaha pemasaran yang terkait dengan kepentingan perusahaan/ organisasi, konsumen/ langganan, dan masyarakat.

 

Untuk mencapai tujuanya, setiap perusahaan mengarahkan kegiatan usahanya untuk menghasilkan produk yang dapat memberikan rasa puas kepada konsumen sehingga mendapat keuntungan yang diharapkan. Dalam pelaksanaannya sering terjadi pertentangan kepentingan, oleh karena itu kegiatan pemasaran harus dijalankan atas dasar pemikiran dari pemasaran yang bertanggung jawab secara moral. Dalam hal ini kami akan membahas tentang pemikiran pemasaran terhadap masyarakat, dimana konsep ini merupakan suatu orientasi manajemen yang mengutamakan tugas perusahaan/ organisasi adalah menentukan kebutuhan keinginan dan kepentingan dari sasaran dan mengusahakan agar kesejahteraan masyarakat dapat terjamin kelangsungannya.

HUBUNGAN CSR (CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY) DAN PEMASARAN BERWAWASAN SOSIAL

 

Gagasan CSR menekankan bahwa tanggung jawab perusahaan bukan lagi sekedar kegiatan ekonomi ( menciptakan profit demi kalangan usaha ), melainkan tanggung jawab terhadap lingkungan sosial. Dasar pemikiranya, menggantungkan semata-mata pada kesehatan financial tidaklah menjamin perusahaan akan tumbuh da berkembang secara baik.

 

Pandangan lain tentang CSR yang lebih komprehensif, dilontarkan oleh Pince of Wales International Business Links lewat 5 pilar. Pertama , Building Human Capital ini menyangkut kemampuan perusahaan untuk memiliki dukungan sumber daya manusia yang handal ( internal ) dan eksternal ( masyarakat sekitar ). Perusahaan dituntun melakukan pemberdayaan, biasanya melalui Community Development. Kedua Strenghthening Economies : memberdayakan ekonomi komunitas. Ketiga, Assesing Social Cohession : maksudnya, perusahaan menjaga keharmonisan dengan masyarakat sekitar agar tidak menimbulkan konflik. Keempat, Encouranging Good Goverance : artinya perusahaan dijalankan dalam tata pamong yang baik. Kelima, Protecting the Environment : perusahaan harus menjaga kelestarian lingkungan .

 

Berangkat dari pemahaman di atas maka CSR tidak hanya bergerak dilingkungan internal tetapi juga eksternal. Dapat diartikan bahwa CSR tidak hanya sebagai peningkat profit bagi kalangan pengusaha tetapi cara dia mengolah usaha pemasaranya banyak melibatkan faktor-faktor sosial. Pemasaranya sendiri harus memiliki wawasan sosial sehingga tidak hanya meningkatkan kualitas dari dalam koporasi saja tetapi juga lingkungan sosial di luar koporasi tersebut.

Gurvy Kavei, pakar manejemen dari Universitas Manchester mengatakan CSR dipraktikan di 3 area:

  1. Di temapat kerja, seperti aspek keselamatan kerja, pengembangan skill karyawan dan kepemilikan saham.

  2. Di komunitas, antara lain dengan memberi beasiswa, dan pemberdaya ekonomi.

  3. Terhadap linkungan, misalnya pelestarian linkungan dan proses produksi yang ramah lingkungan.

(Disarikan dari :Majalah SWAsembada: Edisi 19 Desember 2005-11 Januari 2006)

 

 

 

 

 

 

Mengapa CSR muncul dalam perusahaan – perusahaan ?

 

Gagasan ini muncul untuk menekankan bahwa tanggung jawab perusahaan bukan lagi sekedar kegiatan ekonomi atau menciptakan profit, tetapi juga sebagai tanggung jawab sosial dan lingkungan. Praktik CSR berawal dari tahapan yang paling sederhana, yakni sifat kedermawanan pemilik perusahaan untuk membantu masyarakat. Karena praktik CSR yang sistematis, tentu berlandaskan pada visi dan misi yang kuat serta butuh perencanaan yang matang. Biasanya dimulai dengan melihat dan menilai kebutuhan masyarakat sekitar perusahaan, dengan mencari tahu masalah apa yang terjadi di masyarakat dan memformulasikan solusinya.

 

Program CSR ini diarahkan pada masyarakat yang membutuhkan, sehingga tepat sasaran dan tidak boleh dipaksakan dan disesuaikan dengan kemampuan masyarakat yang menerima program. Hal ini ditujukan untuk meningkatkan kualitas hidup mereka, seperti pendidikan, kesehatan dan pengembangan agrobisnis serta hal lain yang memberdayakan lingkungan sekitar.

 

Sebagai contoh perusahaan yang menggunakan praktik CSR ini adalah, PT HM Sampoerna (HMS) di Batu, Malang, Jawa Timur. Dinilai oleh dewan juri CSR Award 2005 sebagai salah satu keunggulan perusahaan rokok ini dalam mengimplementasikan Corporate Social Responsibility (CSR). Perusahaan ini mampu menjadikan motivator bagi masyarakat Batu agar secara berkesinambungan menggalang sejuta pohon yang bukan hanya sekedar ditanam tetapi juga dikontrol pertumbuhannya. Karena iulah perusahaan yang hampir se-abad ini mampu menggulirkan kegiatan proaktif bagi komunitas lingkungan setempat dan mendapatkan nilai tampah terhadap perusahaan.

 

Aktivitas CSR Sampoerna ini terbagi atas tiga kelompok yang kegiatan utamanya menyasar pada pengembangan ekonomi, peningkatan pengetahuan dan penelamatan korban bencana alam. Perusahaan ini juga menciptakan perekonomian mandiri di areal pabrik dengan potensi setempat, yang dikemas dengan logo Sampoerna untuk mendapat nilai tambah dari masyarakat. Masyarakat di sekitar turut mendukung program tersebut, karenanya PT HM Sampoerna mendapatkan kekuatan dari dalam maupun dari luar hingga perjalanannya sekarang.

 

Kesimpulan

 

Perusahaan – perusahaan umumnya mempunyai tujuan dan orientasi terstruktur, di dalam perjalanan perusahaan tidak hanya mencari untung semata. Perusahaan yang hanya mencari untung semata tidak akan mendapat dukungan di luar kingkungan, oleh karena itu perlu ada sesuatu yang dapat dijalankan agar semua itu terpenuhi yaitu dengan menjalankan Corporate Social Responsibility (CSR), yaitu kepedulian suatu perusahan mengenai aspek – aspek sosial, terlebih bagi perusahaan yang berada dalam lingkungan yang aktif karena masyarakat memperhatikan hal tersebut.

Pengertian mengenai CSR tidak hanya beranggapan peduli masalah sosial saja namun juga memberdayakan aspek sosial baik di lingkungan internal maupun eksternalnya. Perusahaan ikut mengkritisi sistem sosial yang ada sehingga tercipta ketahanan di dalam perusahaan karena telah mendapatkan dukungan dari masyarakat dan ketahanan di luar yaitu dengan perusahaan peka terhadap aspek sosial di lingkungannya maka masyarakat yang berada di sekitar perusahan merasa terbantu dengan hadirnya perusahaan tidak merasa terabaikan sehingga lingkunagn di sekitar perusahaan menjadi benteng yang kuat. Jadi tidak benar ada anggapan bahwa pelaksanaan Corporate Social Responsibility (CSR) itu membuat perusahaan merugi, karena manfaat yang didapatkan sangat berguna untuk menjadi penunjang ketika perusahaan itu berkembang nantinya.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  1. Disarikan dari :Majalah SWAsembada: Edisi 19 Desember 2005 -11 Januari 2006

  2. http://www.ekafood.com/strategipemasaran4.htm

  3. Lembar artikel Pemasaran tahun 2006.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: