“Apakah para pendaki dan backpacker’s masuk syurga?”

untitled11 (8-10 Juli 2007)

 06.00 WIB,

Matahari di timur itu mulai memperlihatkan wajahnya dari sela ufuk masyrik, seakan memberi isyarat bertabur semangat bagi semua makhluk untuk mencari keutamaan hari. Sedangkan, sang bayu mulai menyemilir pelan-pelan menyusuri apapun yang dilewatinya seperti memberikan nafas kehidupan baru yang tidak akan tercipta. Gemerlap lampu-lampu mulai dipadamkan, asap-asap dapur mulai terlihat, dan suara-suara binatang malam sudah tak terdengar lagi.

Pagi ini saya memencingkan pandangan pada sebuah ruangan kotor dan berdebu, belanga di sana-sini dan bau minyak tanah yang mulai tercium. Ruangan itu adalah ruang pertama yang saya masuki jika pagi telah datang setelah shalat subuh, dan kini terlihat sepi dan gelap. Dahulu, setiap gonggongan anjing mulai sirna berganti dengan suara ayam tetangga yang mulai berkokok tajam, di dalam ruang itu pasti saya dapati seorang wanita tua yang sedang mengaduk-aduk sego atau merebus air panas. Wanita tua itu adalah eyang putri saya yang selalu memberi senyum kepada tiap cucunya setelah bangun tidur dan memberi isyarat dengan telunjuknya pada sebuah meja kecil di dekat kamar, teh panas berkolaborasi dengan gorengan ala desa tempat eyangku berada yaitu “tempe mendoan jumbo” yang tak wajar ukurannya. Kebiasaan bangun pagi beliau lakukan lantaran dari muda dulu eyang adalah penjual tahu-tempe di pasar, sewaktu bangsa ini masih dikuasai oleh penjajah sampai penggulingan Soekarno terjadi. Apa guna suatu perombakan dan penggulingan kekuasaan namun kekuatan lain muncul menguasai menjadi ‘raja baru’ dengan hegemoni sosial-politiknya, hal tersebut adalah sedikit dari batin saya yang sedari tadi ikut berbisik. Kini beliau sudah tak kuat lagi berdiri dari tempat tidur apalagi untuk menanak nasi. Tubuhnya yang kurus kecil mulai menua ditumbuhi keriput kulit, begitu juga ingatan yang berkurang. Bahkan hari ini tepat tujuh hari eyang kakung meninggal-pun beliau tak sadar telah ditinggal suami tercintanya, mungkin jika eyang putri masih sehat lahir-batin beliau akan sedih menerima semua ini. Aku banyak belajar dari beliau.

Saya menengadah sejenak, seketika suasana menjadi menciut sunyi. Saya berkata dalam hati, “apakah manusia-manusia mengetahui bagaimana mereka semua akan mati, sedang sedikit orang yang telah merencanakan bagaimana matinya. Merencanakan bagaimana mati bukan sekedar bagaimana cara, namun bagaimana setelahnya”. Saya teringat akan perkataan seorang filusuf Yunani yang di kutip oleh GIE , “…Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda dan yang sial adalah berumur tua. Berbahagialah mereka yang mati muda…”. Usia muda adalah masa dimana idealisme-progresifitas muncul, potensi-skill akan muncul jika si pemuda/pemudi ini bisa menemukan kelebihan dan mengasahnya. Bagaimana tidak, tahun-tahun tergulingnya hegemoni pemerintahan (baca: pemerintahan terdahulu) terdapat pengaruh besar dari pihak pemuda sebagai latar belakang penggulingan baik dalam aksi-aksi tegas “demo”, tahap pengukuhan gagasan-gagasan dalam sebuah jurnal reportase sampai dialog intelektual dan semacamnya. Pemuda-pemudi yang siap mati dalam usaha memperjuangkan kebenaran adalah suatu pilihan, namun persoalannya apakah ada yang memilih pilihan itu?. Kekuatan besar bukan alasan menciptakan kemaslahatan sosial namun bagaimana mengendalikan kekuatan sendiri itu untuk menyelesaikan persoalan, ibarat seorang raja yang takkan bisa mengendalikan kebesarannya. Kadang saya juga teringat keluhan seorang sahabat yang telah bosan dengan cara orang-orang menikmati permainan dunia.

Dia berkata, “Dikala pekerjaan dan rutinitas membelenggu karya dan cipta”.

Hal itu wajar ketika kita telah mempunyai aktifitas yang rutin dan “ajek”. Hidup sebenarnya sangat indah, bagaimana tidak indah jika kita selalu mensyukuri apa-apa yang telah kita dapatkan dari hidup ini. Sahabat, rejeki, nikmat, keluarga, kedudukan sampai pasangan hidup terbaik, itu semua contoh adalah hal-hal yang harus kita syukuri karena tidak setiap orang mempunyainya. Dan yang menjadi resep awet muda adalah membuat warna-warna dalam hidup kita.

Kesuksesan bukan secara spekulatif adalah hasil semata, namun bagaimana mendapatkannya, beserta hikmah yang terkandung. Efek orang yang tak bisa menarik ibrah (baca:pelajaran) dari suatu peristiwa jika mendapatkan sesuatu masih merasa tidak puas, dan sesungguhnya dia tidak pernah akan paham tentang apa yang telah ia raih, Na’uzdubillah.

Terkadang, Saya dan sahabat saya selalu janjian untuk menyepi di pinggiran kota, ke tempat jajanan yang merakyat sambil mengobrol suatu topik. Warung tenda/ angkringan menjadi tempat utama karena beberapa rumah makan sudah tutup saat bada Isya’ datang. Makanan sederhana justru lebih berarti bagi kami daripada makanan mewah, sambil menyantap makanan yang serba “mak nyuss” tidak lupa minuman teh poci yang panas, legi, kenthel (nasgitel). Bagaimana kami tidak menikmati keadaan itu, orang-orang tidak mengenal kami dan kami-bebas berbicara seperti edelwis-edelwis di puncak gunung yang bebas bergoyang. Dengan beratapkan langit yang agak terang, sesekali wajah ayu sang rembulan muncul mencuri pandang pada kami dan setelahnya bersembunyi kembali di balik mega, “sungguh pemalu”, bisik saya. Sungguh padanan sederhana yang penuh nilai, kami duduk berlandaskan segulung tikar dan angin malam menjadi selimut pembicaraan yang mulai memanas, ketika kami menuju titik pembicaraan “apa itu kebenaran di dunia ini” dan “apa itu perlawanan pada ketidakadilan”. Sahabat saya panjang lebar menterjemahkan apapun yang telah menjadi pemahamannya tentang dua hal tersebut, saya hanya meliriknya sejenak dan kubalas dengan senyuman, walau saya sadar dia sangat mengharapkan pendapat saya, apa boleh buat saat ini saya hanya ingin menikmati suasana, dan mendekat pada Alloh melalui renungan. Terkadang kami juga saling serang dengan guyonan-guyonan dan pertanyaan tentang hidup kami masing-masing.

Sambil menikmati tehnya, sahabat saya yang tidak mau disebutkan namanya ini memandang pada ruang kosong didepannya, jalan raya yang mulai sepi dari lalu lalang kendaraan.

Kapan nikah bro, menyusahkan aku saja tiap ada masalah selalu datang atau mengajak pergi, padahal aku sedang meng-khatamkan beberapa buku”, serangan pertamaku mulai pada sahabat saya.

Apa ga kebalik, kamu itu yang sering nyusahin jika sedang error sering pergi ke tempat yang tidak-tidak, hutan-lah gunung-lah atau tempat lain, Kapan kamu ada waktu untuk mikir hal yang kamu tanyain tadi”, sahabat saya mulai melancarkan dengan serangan baliknya.

Kamu belum paham kenapa seperti itu, bukan sedang eror. Justru untuk menuju kekusyukkan “berkhalwat” dengan Pencipta alam ini, piye to..., untuk yang lain urusan Alloh, aku tidak pandai untuk urusan itu…”, kembali mata saya melirik tanpa ekpresi.

Sejenak kami berdua terdiam sambil menghirup napas dalam-dalam terhanyut oleh ketenangan, seakan pembuluh nadi sudah terbasahi udara dingin malam itu. Dagu ditopang kedua-kaki yang ditekuk, tangan saling terkait, wajah menengadah keatas adalah “pose idealku “ untuk merenung terlebih di daerah yang mempunyai diorama pemandangan yang luas dengan kontur tanah bergelombang yang biasa saya dapati di daerah pegunungan, sambil berkata, “dari perspektif manapun alam memang indah”.

Tiiiiiiitttttttttt!!!!!!!!!!!!!!, alarm note Hp saya berbunyi keras. Karena kaget kami berdua saling menunjukkan muka pucat-kaget seperti para para pedagang kaki lima yang didatangi Trantip atau semacam anggota DPR yang tertangkap basah saat aksi transaksi ilegalnya.

Saya meroggoh HP disaku celana. “Ekspedisi Lawu tanggal 8-10 Juli 2007” terlihat jelas memo yang tampil dalam layar HP n-gage buatan tanggal keluaran 28-01-2005 dengan OS. Symbian versi-6 yang sudah tidak diproduksi lagi versi barunya.

Ada apa?”, sahabat saya bertanya.

Ada jadwal nih dekat-dekat ini, NBC (Nuruttaqwa Backpacker’s and Culiner community) akan mengadakan acara pendakian serta kuliner di acara ekspedisi Gunung Lawu, melewati jalur ; Magetan (Jawa Timur) – Jalur Cemoro Sewu – Tawang Mangu (Jawa Tengah)”, jawab saya dengan nada semangat.

Oooohh, kirain apa to pak”, menjawab dengan nada rendah sahabat saya mulai bangkit dari posisi duduknya.

Saya juga mulai bangkit, dengan tepuk pundak sahabat saya, “Pulang yuk”

Ok, balas saya sambil meraih pundak sahabat saya dan kami berjalan bersebelahan menuju motor Supra-X hijau bernomor polisi AB-XXXX-ND (Rahasia,hehehe) di bawah lampu hijau kekuningan yang redup, terjemahan keberadaan saksi hidup saya mungkin yang sudah 8 tahun-an setia mendampingi.

 

Ya, itu moment beberapa hari sebelum saya menanti hari ini, “Ekspedisi Lawu” terjadi. Entah apa yang membuat kegembiraan ini, padahal aku mempunyai tingkat kebosanan diatas rata-rata. Ku tatap tas gunung warna hitam, hasil dari meminjam seorang teman SMP dengan perawakan jangkung-kecil dengan sisiran belah pinggir ala mafia Hongkong di Televisi yang sering kulihat. Sekarang dia telah menjadi sosok pemuda yang benar-benar berbeda, dengan memegang setumpuk kertas bertuliskan “sukseskan pendidikan” di sebuah pertigaan depan PEMDA kota gaplek siang hari itu. Dia seorang aktifis sosial di daerahku.

 

Dia mendekatiku dengan senyum khasnya sama sewaktu SMP masih kulihat,

Mas ada selebaran dari mahasiswa peduli pendidikan”, kulihat dia dengan wajah yang kuyu dan agak belang hitam-putih terkena sinar matahari siang itu.

Oya, makasih mas udin!”, aku mulai berani menyebutkan namanya berharap dia masih mengenali suaraku

Maaf, mukhlis ya!!”, dia telah tau rupanya dengan melirik Supra-X yang kupakai sejak SMP

Wah tau juga kamu Din”, kubuka masker penutup hidung sambil kuberi bonus senyuman

kemuadian dia mengajakku mapir di tenda POSKO peduli Pendidikan tak jauh dari pertigaan itu, disanalah kami ngobrol banyak ibarat bicaranya seorang guru pelajaran Sejarah SMP-ku. Membosankan!!, kata anak-anak. Pak Saimo yang kukenal paling betah berbicara tentang semua hal terlebih membicarakan kisah perjuangan tempo dulu, namun tetap saja “Kadaluarsa terdengar di kuping” pikiran murid-murid saat itu yang sebagian besar tidak tertarik dengan pelajaran Sejarah.

Aku menyelesaikan banyak tugas hari itu, dan petang hari pulang dengan jarak tempuh lebih 120 km (pergi-pulang) dengan melewati tebing, jurang,dan banyak Karts di perjalanan. Begitulah keadaan alam di daerahku, yang konon menimbulkan kontrofersi tentang tambang belerang, belum lagi kandungan zat lain, bahkan di daerahku diramalkan ladangnya sumur bawah tanah, untuk mencapainya cukup dalam. Sesampai di rumah aku menghadap alloh sejenak, lalu membaringkan tubuh dikursi depan, di rumah aku tak punya kamar. Karena keadaan aku terpaksa, tidur di kursi jika malam hari. Pagi hari seperti biasa aku mulai bangun pagi dan pergi ke Jogja, untuk mempacking tentunya sebelum berangkat ke Lawu.

 

Jogja, 11.45 WIB,

Kumandang Adzan Dhuhur terdengar mulai menyusup dalam sanubari para hamba. Waktu itu saya sedang membuka Friendster dan email untuk mengecek beberapa informasi, lalu saya langsung bergegas ke Masjid Kampus Nuruttaqwa UPN “Veteran” Yogyakarta yang sebelumnya akh Okta telah memberikan informasi melalui pesan singkat bahwa ba’da Dhuhur semua peserta ekspedisi diharapkan hadir untuk cecking group dan pelengkapan yang akan dibawa. Sesampai di Masjid Nuruttaqwa di sana telah banyak ikhwah yang berkumpul untuk berjamaah shalat. Shalat Dhuhur pun telah selesai ditunaikan yang telah dipimpin oleh beliau akhi Amril, setelah semua selesai maka dilanjutkan dengan jamak shalat Ashar bagi peserta ekspedisi.

Suasana semakin membuat semangat para NBC mania karena dalam persiapan keberangkatan banyak dari sahabat-sahabat yang tidak ikut –pun turut memberikan ucapan doa dan dukungan demi kelancaran acara Ekspedisi Lawu 2007. Jam 12.30 WIB, para NBC mania diberikan waktu untuk re-packing barang, makan siang dan persiapan lainnya sampai pukul 13.30. Saya kemudian menuju “Perguruan El Hambra” bersama akh Anang Jr dan akh Okta (baca : kaum asli ElHambra) untuk packing barang. Waktu tak begitu lama kami-pun bergegas menuju Mas.kam Nuruttaqwa kembali, setelah semua warga NBC berkumpul kami mulai briefing sebentar untuk memastikan semua terkendali dan siap.

 

Jogja, 14.30 WIB,

Kami berjalan menuju jalan raya di depan kampus yang akan menjadi kenangan, UPN “Veteran” Yogyakarta guna menunggu truk atau kendaraan lain yang bisa kami tumpangi sampai minimal sampai Klaten, maklum kami adalah NBC yang menganut metode “backpacker”, yang saya yakin mungkin ada dari beberapa orang melihat backpacker adalah hal sia-sia dan tidak menarik, namun bagi kami backpacker adalah suatu proses melawan keadaan, bertahan, ikhlas, konsisten dan menerima apa adanya sesuatu. Beberapa personel memakai tas gunung dan beberapa dengan “pack kecil” kesayangannya, heran saya ekspedisi kali ini para warga NBC masih dalam pertarungan tugas-tugas dan perkuliahan.

Kepulan asap kendaraan bercampur debu “tanah-vulkanis” tersapu angin beterbangan disekeliling kami, konon padatan tanah di kota Jogja ini terbentuk dari endapan debu dan bebatuan vulkanis, itulah sebab mengapa karakter tanah di Jogja mudah membentuk debu dan meresapkan air. Hal ini juga yang menjadi suatu alasan mengapa dikala gempa 27 Mei 2006 mengguncang hebat wilayah Jogja tak semuanya menjadi “ladang datar”, karena diketahui karakter tanah ini “bukan penyerap getaran” seperti tanah-tanah ditempat lain namun cenderung menghantarkan getaran, (menurut dosen ahli geologi UGM pada wawancara pagi di Sonora FM beberapa menit setelah gempa terjadi).

Akhirnya beberapa waktu terlewati, kami-pun mendapati kendaraan ber-plat nomor polisi Klaten (AD-C) yang bisa kami tumpangi sampai pada perbatasan Klaten-Jogja atas negosiasi kami pada sang sopir, sesampai di dekat perbatasan Klaten-Jogja kami-pun turun dan merapat di depan sebuah bangunan kosong guna menunggu kembali kendaraan roda empat lainnya yang bisa kami tumpangi, namun sudah sekian lama tidak ada kendaraan yang bisa kami tumpangi. Laju kendaraan-kendaraan lain melaju begitu saja ketika beberapa orang diantara kami mencoba melambaikan tangan hasilnya tetap nihil, akhirnya kami sepakat memutuskan melanjutkan perjalanan ke Solo naik bus. Sesampai di Terminal Solo hari sudah gelap, ¾-nya bagian matahari telah menerangi belahan dunia yang lain, dari Terminal Solo lalu kami semua naik Bus yang lumayan senggang menuju Tawangmangu dengan membayar yang cukup ringan karena dihitung rombangan, “kapan lagi bisa ngirit jika dalam kesempatan biasa kami tidak bisa seperti ini”.

 

18.00 WIB,

Bus jurusan Tawangmangu (Baca : TW) yang kami tumpangi cukup lengang terlihat dari beberapa kursi bus yang kosong dari penumpang, saat itu memang hari telah menginjak gelap dan semua orang telah selesai beraktifitas seharian terutama bagi masyarakat sekitar. Lalu-lalang dengan kendaraan pribadi baik itu sepeda motor atau roda empat dapat saya lihat melalui jendela bus, ternyata kebanyakan orang disini jarang memakai angkutan publik jika sepulang kerja.

Saya menikmati perjalanan dengan saling mengambil hikmah dari kisah-kisah yang saya dan akh Okta sampaikan secara bergantian, begitu pula dengan sahabat-sahabat lain telah sibuk menikmati perjalanan dengan caranya sendiri-sendiri. Saya mencoba mengabsen warga NBC, pada baris paling belakang akh Yudi (HI) berebelahan dengan pasangan suami-istri dengan dua anak, selisih satu kursi di depannya adalah akh Putra dan Akh Syamsuri, disusul depannya adalah Akh Adi dan Akh Rozy. Kursi kelima dari belakang adalah akh Vio dan akh Adit, kursi keenam ada akh Anang Jr, akh Yudi TA (Tambang) dan akh Imam sedang menyisakan satu kursi ketujuh dari belakang adalah saya sendiri dengan akh okta jadi komplit tak kurag orang.

Seperti bernostalgia lagi bagi saya”, bau tanah-pun tidak asing bagi saya karena dari SMP saya telah memberanikan diri berkendara dengan si hijau motor saya dengan jarak tempuh tidak wajar waktu itu. Diiringi kepakan daun yang berguguran terkena gelombang udara mengilhami saya untuk bertasbih atas kuasa-Nya serta bersyair dalam hati seperti kebiasaan saya sewaktu saya jauh dari keramaian. Adapun saya memilih kursi sebelah kri adalah untuk menikmati pemandangan pendaran lampa Waktupun berlalu, tepat di perempatan Karanganyar ada hal yang membuat kami tercengang, dipinggir jalan terdapat papan setinggi 2 meteran dimana tergantungnya perpuluh-puluh helm “Ciduk” (baca: tidak standar) hasil razia Polantas setempat, dan uniknya lagi dipapan terdapat kata-kata “Kalau udah begini ga malu memakai helm yang tidak standar”, hehehe” suka humor juga pak polisi karanganyar ya sahabat.

Udara terasa kian tipis bagi kami, karena perbedaan tinggi daratan yang sangat signifikan antara Jogja-Tawangmangu (puncak) membuat kerapatan oksigen semakin renggang. Cahaya semakin redup, sesampai di Pasar Tawangmangu kami bongkar muatan, dan beberapa mengecek barang bahkan ada yang membeli perlengkapan seperti penutup kepala dan sarung tangan tebal untuk mengantisipasi kehilangan panas tubuh disaat mendaki.

19.20 WIB,

Perjalanan kami lanjutkan ke BaseCamp Pendakian Lawu yang sudah masuk dalam wilayah Magetan, Jawa Timur dengan memakai jasa angkutan pedesaan (baca: Colt), sesampai di BaseCamp pendakian kami telah disambut ramainya beberapa kelompok orang yang yang sedang duduk di sisi jalan. Satu per satu kami turun dari kendaraan, setelah barang-barang diturunkan dari atas kendaraan kamipun merapat pada sebuah warung kecil.

Kami memesan mie rebus hangat untuk kami santap guna memasok cadangan karbohidrat sebagai sumber kekuatan saat mendaki nanti. Betapa berharganya sepiring mie bagi kami yang sedang kedinginan di ketinggian kurang lebih 900 meter DPL. Mie telah kami santap dan kini saatnya kami melaksanakan kewajiban Shalat Isya dan Maghrib (jamak) di masjid yang terletak tepat diseberang warung. Dengan menahan dinginnya air Magetan, kami berwudhu bergantian. Bagi saya air disana lebih dingin daripada mata air Kaliurang di Jogja, tiba-tiba tercium aroma khas yang segar dan wangi dari area di samping masjid dimana terdapat hamparan ladang Strawberry yang menggoda selera.

Setelah usai shalat kami semua memakai pakaian yang tebal serta menata perlengkapan yang dibawa, rata-rata memakai Double pakaian. Rupanya hari sudah larut, pukul 23.15 WIB kami berangkat, dengan melirik ke atas memandang tingginya puncak Lawu yang akan kami taklukkan. Setelah memasuki area pendakian dengan membeli karcis masuk, maka dilanjutkan dengan membagi regu, dari 12 orang dipisah menjadi 2 regu, masing-masing regu terdiri 6 orang. Masing-masing terdapat pemimpin regu, pembawa bekal, P3K, sampai orang paling belakang yaitu penyisir dan keamanan. Akh Okta mengumumkan hhasil pembagian regu ;

Regu pertama ; Akh Okta HI ‘02, Akh Putera EA ‘04, Akh Vio TG ‘03, Akh Yudi P HI ‘02, Anang Junior FT UNY ‘05, Akh Yudi TA ‘04.

Regu kedua ; Akh Syamsuri TA ‘01, Akh Imam EM ‘03, Akh Rozy TG ‘02, Akh Mukhlis KJ ’04, Akh Adi Nurdin FAPERTA UGM ‘01, dan Akh Adit TG’04.

Menurut kepercayaan dengan pendekatan kulturistik jika kita mengatakan sesuatu yang buruk di Lawu maka sesuatu akan terjadi, maka kami berhati-hati dalam berkata yang tiada berguna, Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan)” (QS: Al Mu’minuun : 3). Hal lain yang perlu diperhatikan adalah jika kita sedang dalam perjalanan di alam diusahakan jangan mengotori, mengubah, menambah apa-apa yang sudah ada kecuali melakukan hal yang bermanfaat, karena di alam luas ini bukan hanya dihuni oleh manusia saja sahabat. Sesaat setelah pembagian Regu selesai, Regu pertama mulai berangkat sedang Regu kedua 5 menit kemudian berangkat di belakang Regu pertama. Pos I telah kami lewati, kaki kami terasa berat untuk dilangkahkan karena track Lawu dari pintu Cemoro Kandang mempunyai derajad tanjakan yang lebih dari beberapa pintu masuk lain. Bagi para sahabat yang ingin mendaki, selain dari awal telah melakukan pemanasan (relaksasi) usahakan juga mengambil langkah kecil saat berjalan memulai pendakian. Hal ini dilakukan agar tubuh kita bisa menyesuaikan dengan kondisi track jalan maupun kondisi kerapatan udara sekitar.

Sesampai Pos Camp II kami memutuskan beristirahat karena beberapa dari warga NBC kelelahan dan beberapa menderita kram kaki. “Harus diamputasi tuh kakinya!!”, celoteh Akh Syam yang bercanda agar semangat kami tetap tersulut selama perjalanan, tapi benar loh sahabat kita semua harus usaha ekstra, “berani kerja berani capek”. Kadang dengan merasakan kelelahan, berat dalam usaha, kita baru dapat mengingat kebesaran Alloh sang Maha Kuat, berbeda saat kita diuji dengan kenikmatan (uang, kedudukan, suami/istri, anak dll) banyak dari kita lupa kemana tempat bergantung atas semua yang telah diberi, semoga kita termasuk dalam golongan yang diridhoi-Nya (amin).

 

03.00 WIB,

Di POS II sebagian dari kami membuat api unggun, memasak air, membuat mie rebus, dan beberapa ada yang beristirahat. Suasana menjadi hening seketika karena tidak banyak suara yang terucap diantara kami. Aluanan hembusan angin terdengar dengan dengan jelas, pendaran cahaya remang sang rembulan yang mencoba meramabat masuk menembus hutan melalui sela-sela dedaunan, suasana nyaman ini memandu kami untuk beristirahat sejak kami melakukan pendakian yang melelahkan tadi.

Sungguh kenikmatan tersendiri beristirahat di alam bebas. Kita bisa bayangkan, bagaimana malam jika tiada rembulan dan bintang, bagaimana manusia jika tiada udara, semuanya telah terdapat keterpaduan. Bila kita bicarakan tentang malam, ternyata Alloh menciptakan malam supaya kita semua bisa beristirahat sahabat,“Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari…” (QS: Al- An’aam : 60). Beberapa jam kemudian kami bangun dengan tenaga baru, asam laktat yang telah membuat kami pegal telah hilang, denyut jantung sedikit meningkat karena jantung berusaha memompa oksigen yang dibutuhkan oleh tubuh dalam keadaan sedikit oksigen. Nuansa dingin kami coba sambut dengan membuat Teh dan Kopi susu, sembari berbincang, bertukar pikiran dalam bahasa saya lebih saya kenal “transfer ilmu”. Waktu Subuh tiba, secara bergantian kami bertayamum dan mengambil beberapa matras sebagai sajadah, awalnya kami bingung arah mana kami harus menghadap. Alhamdulillah akh okta yang telah akrab dengan Lawu 16 kali memberikan perhitungan arah yang kami ikuti sebagai arah kiblat shalat. Sehabis shalat, beberapa warga NBC melanjutkan istirahat sebentar karena target kami pukul 08.00 baru melanjutkan perjalanan.

 

07.00 WIB,

Tiiiiiiit,tiiiit….. suara alarm jam milik akh Okta sudah memberi peringatan bahwa hari sudah pagi. Satu demi satu dari kami bangun, jam telah menunjukkan pukul 07.00 WIB memberikan isyarat bagi kami untuk cecking barang untuk persiapan menuju POS berikutnya. Untuk mengantisipasi beratnya barang bawaan, beberapa barang terlalu berat atau kurang dibutuhkan kami simpan sementara di suatu tempat untuk kemudian saat diambil kembali saat perjalanan pulang. Hari itu kami terpaksa memulai pendakian dari POS II tanpa akh Anang karena telah lebih awal berangkat.

Sungguh luar biasa, kicauan burung menyambut kami. Burung-burung tersebut melompat dari ranting satu menuju pijakan ranting yang lain, mereka tidak merasa terusik dengan kedatangan kami rupanya. Panorama sekililing Lawu yang memukau, bebatuan gunung yang besar, udara yang menyisir sejuk, dan indahnya bunga Edelweis menuntun kami menapaki track jalan yang tak henti-henti menanjak tajam.

Akh Syam dan Akh Putera telah mendahului disusul oleh rombongan lain dibelakangnya. Perjalanan kami kurang lebih memakan waktu 4 jam, dari POS III kami terkumpul lengkap dengan akh anang menuju POS IV dan V. Sebagai POS memang POS IV dan V ini tidak terdapat tanda atau bangunan seperti POS I – III hanya berupa lahan kosong yang cukup luas dari daerah sekitarnya. Warga NBC beristirahat di POS V tepat diatas dataran tinggi yang menghadap tepat ke Ngawi Jawa Timur, kami menanyakan kepada dua orang penduduk asli Lawu yang kebetulan melewati kami, “Pak, pinten kilo malih tebihipun puncak sakin mriki”(Pak, berapa kilo lagi jarak puncak dari sini), bapak itu menjawab, “setunggalan kilo mas” (satu kilo-an mas). Syukur kami ucapkan “puncak tinggal 1 Km lagi”, kami telah melakukan perjalanan yang mungkin tidak akan kami lupakan seumur hidup di Gunung Lawu ini, dengan kameranya akh Okta saya mengabadikan momen-momen yang menarik dengan kamera dengan format 3GP. Beberapa saat kamera dalam keadaan merecord kami bertemu dengan seorang bapak yang memanggul tongkat yang digantungi tas plastik. Setelah kami mencoba berdialog ternyata bapak itu mencari daun “Sangkobak” yang dipercaya dapat membantu mengobati pegelinu sahabat. Daun tersebut hanya tumbuh di dataran tinggi. Kami mendapat suatu ilmu dari bapak itu bahwa di tempat setinggi ini masih memberikan manfaat bagi manusia. Tidak ketinggalan, Edhelwis yang cantik masih setia menemani kami di sisi-sisi jala, mereka menari dengan simfoni ketegaran yang ia tebarkan untuk kami. Sebenarnya saya mendapat pesan dari beberapa sahabat untuk diminta memetik bunga itu, namun saya lebih suka bunga Edelweis itu tumbuh tanpa usikan tangan manusia di Lawu. Jika kita menginginkan bunga itu kita bisa kok membelinya ditempat pengembangan bunga Edelweis di Lereng Lawu, jadi bunga yang di gunung tetep bisa mekar dengan indah sahabat.

 

 

 

13.40 WIB,

Akhirnya kami sampai di dekat puncak Lawu. Di sana sahabat tidak usah khawatir kalo lapar atau haus karena di dekat puncak terdapat warung!!!, (warung bener-bener warung) kok bisa tahan ya si pemilik warung di atas Lawu yang punya ketinggian 3000-an m DPL. Itu membuktikan bahwa tiap kita mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing dimana kita dituntut untuk saling tolong menolong untuk kemaslahatan umat.

Harga makanan dan minuman di warung tersebut memang lebih mahal dengan warung biasanya, hal ini dikarenakan biaya usaha untuk mengangkut barang-barang dagangan dari lereng ke warung tersebut. Harga 1 Mie Goreng yang sudah dimasak Rp.4000 harga beberapa makanan dan minuman lain juga lebih dari harga biasanya, jadi kita bisa maklum. Di dekat warung sahabat bisa mengambil air disuatu sendang yang bernama sendang “Drajad”. Sendang itu menjadi satu-satunya sendang yang menjadi sumber air bagi para pendaki dan masyarakat sekeliling yang melewati Lawu.

Setelah warga NBC beristirahat dan makan di warung, barang-barang kami titipkan kepada pemilik warung untuk selanjutnya kami menuju “Hargo Dumilah” atau puncak Lawu. Jam 15.00 WIB warga NBC sampai di puncak, ternyata kami disambut ramainya sekelomok orang yang sedang mengadakan suatu acara, setelah saya amati ternyata pengukuhan SAKA Wanabhakti dari Ngawi.

Sungguh kenikmatan yang tidak terhingga, dapat melihat keindahan alam yang terbentang di sekitar Lawu melalui puncak gunung. Keindahan alam yang tercipta dapat memberikan hakekat pada kita bahwa hanya Alloh-lah yang mempunyai kekuasaan tertinggi. Dari puncak “Hargo Dumilah” sahabat dapat menikmati pemandangan-pemandangan yang menakjubkan antara lain ; Telaga Sarangan, Kab. Magetan, Gunung Semeru, Bromo, dari arah Timur. Gondosuli, perbukitan menoreh sampai kota gaplek Gunungkidul tercinta di sebalah Selatan. Sedang dari arah barat ke Timur kita dapat menyuplik pemandangan ; Tawangmangu, Gunung Merapi, Sindoro, Candi Ceta, Karanganyar serta bentangan indah kota Yogyakarta.

 

15.55 WIB,

Selama kurang lebih 1 jam kami di atas puncak Lawu, waktu telah menginjak sore dan kami harus turun untuk menunaikan shalat Dhuhur dan Ashar (jamak). Setelah shalat kami re-ceck barang dan mengisi air cadangan untuk air minum dan memasak, lalu kami meneruskan perjalanan menuruni track Lawu yang menurun tajam. Suatu ketakjuban terjadi saat kami diberikan kesempatan oleh Alloh melihat fenomena semburat awan dan daratan yang terbelah oleh bayangan dari Gunung Lawu yang terkena cahaya matahari, jadi bayangan Lawu menutupi sebagian awan dan dataran dan sebagian lain terang.

 

19.30 WIB,

Sudah malam kami sampai di POS II, kami beristirahat dan sebagian berdiskusi apakah akan menginap di POS atau turun sampai BaseCamp (awal pendakian), akhirnya pada malam itu juga kami memutuskan untuk menuruni Lawu. Sebelum memulai perjalanan kami tidak lupa membuat mie lagi untuk pasokan karbohidrat, perjalanan menuruni Lawu lancar. POS I kami lewati selama perjalanan turun kami harus menaklukkan track menurun yang tajam. Kelelahan telah menggerogoti tubuh kami dan kami akhirnya warga NBC sampai di BaseCamp pukul 23.00 WIB, kami langsung menuju Masjid untuk melaksanakan shalat jamak Maghrib dan Isya, seusai sahalat kami menata barang dan beristirahat.

 

04.50 WIB

Kami bangun untuk melaksanakan shalat subuh berjamaah, saya heran jika ada jamaah selain kami yang akan shalat Subuh tepat waktu pasti membangunkan kami untuk shalat namun pagi itu tidak ada warga yang membangunkan kami. Selesai shalat kami melakukan relaksasi dan menata ulang barang, pukul 06.45 WIB kami mulai berjalan dari masjid menuju jalan yang mengarah ke Tawangmangu. Kami berjalan dengan harapan ada truk yang bersedia kami tumpangi, sudah lebih 4 kilometer kami berjalan belum ada kendaraan yang bersedia mengantar kami ke Tawangmangu. Di suatu pertigaan kami terhenti untuk beristirahat, baru beberapa saat kami melepas lelah Alloh memberikan pertolongan dengan mendatangkan kendaraan untuk bisa kami tumpangi. Kami bergegas naik, namun karena rumah pemilik dari kendaraan tidak sampai Tawangmangu maka lagi-lagi kami berhenti di jalan dan melanjutkannya jalan kaki. Dua puluh menit telah kami lalui, kami mencoba menawar tarif colt dan pada suatu nilai nominal tertentu, akhirnya sang sopir setuju mengantar kami sampai terminal Tawangmangu.

 

09.00 WIB

Sesampai di Terminal warga NBC mencari warung makan, kami tertarik sebuah dengan warung “sego pecel” + “ratengan/gorengan” seharga Rp. 1500/piring. Sebenarnya warga NBC mentargetkan untuk berkuliner disekitar Lawu, karena dari beberapa warga NBC disibukkan oleh aktivitas kuliah dan aktivitas lain maka kami membatalkan acara berkuliner. Namun kami cukup senang dengan melahap sego pecel khas Tawangmangu yang “mak nyuuuusss” untuk mengobati kekecewaan tidak bisa berkuliner. Selesai menyantap pecel khas TW (Tawangmangu) kami mencari Bus jurusan Solo, lagi-lagi kami menawar tarif Bus lagi. Alhamdulillah Alloh Maha Pemurah memberi keleluasaan kami dengan mendatangkan sebuah bus yang mengijinkan kami naik dengan harga “Special” ga pake telor, hehehe. Namun hakekatnya dimana dan bagaimana keadaan kita, kita harus dapat mencari solusi “atau” tidak sama sekali.

Dari terminal Solo kami berjalan kaki menahan sedikit panas dan dahaga menuju Jalan Slamet Riyadi. Kami berjalan kaki sambil melirik jika ada kendaraan yang bisa kami tumpangi lagi untuk ke Klaten bahkan sampai Jogja. Tak lama kami berjalan terdapat Truk Pasir yang sedang mengisi bahan bakar di suatu POM Bensin. “Serbu!!”, pekik dari seorang dari kami, dua orang meminta ijin kepada sopir untuk mengantar kami menuju arah Jogja. Lagi-lagi pertolongan Alloh datang, kamipun diijinkan naik sampai daerah klaten, tepatnya di depan Kantor Polisi Resort Klaten.

Kami turun dan mencari tempat yang teduh untuk menunggu kendaraan lagi sahabat. Waktu itu pukul 13.20 WIB cuaca terik, kami sudah kehabisan minuman untuk kami teguk. Tiga dari kami, Akh Yudi TA, Akh Syamsuri, dan Akh Adit bertugas mencari kendaraan 100 meter dari tempat kami berteduh. Lama menunggu, kami terkejut Subhanallhah mereka dapat Bus “Akademi Angkatan Udara Adisucipto” yang kebetulan kosong. Sudah dipastikan kami akan sampai Jogja tercinta, kami tenang menikamati perjalanan sejenak untuk menunggu Bus berhenti tepat di depan gerbang pangkalan AAU Adisucipto.

Perjalanan kami lanjutkan dengan jalan kaki sampai pertigaan Bandara Adisucipto, tanpa bosan kami menunggu kembali kendaraan untuk kami “tebengi” untuk sampai Ring Road Utara (UPN Veteran Yogyakarta). Saat itu kami diuji, sudah bermenit-menit berlalu tapi tidak ada yang bersedia kami tumpangi. Sebagian dari kami mengingatkan, dengan kesungguhan dan niat yang benar apapun insyaAlloh bisa kita lakukan. Sekali lagi Kekuasaan Alloh datang, Truk yang bermaksud ke arah Magelang mengijinkan kami naik sampai perempatan RingRoad Condong Catur. Tepat pukul 14.30 WIB kami sampai di perempatan RingRoad Condong Catur lalu kami turun tepat saat lampu merah menyala. Seraya mengucapkan terimakasih kepada Sopir yang sudah berumur 40 tahunan dibelakang kami ada mobil Carry yang melihat aksi kami melompati truk, “walah walah pada nebeng to”, kami tidak menggumam menanggapi. Akhirnya kami sampai di UPN tercinta, dengan tenaga terakhir dan aliran keringat yang terus menetes kami melangkah disisi kiri jalan untuk menuju masjid Nurut Taqwa UPN. Sesampai di Masjid kami membersihkan diri dan melaksanakan Shalat. Berakhirlah perjalanan pendakian Lawu kali ini dan insyaAlloh akan dilanjutkan di Gunung tertinggi yang mempunyai puncak Maha Meru. Cerita ini dibuat untuk mengingatkan yang lupa bahwa kuasa Alloh akan bersama orang-orang yang selalu mengingat kepada-Nya.

 

Inilah secarik cerita kisah warga NBC and friend’s dalam melakukan ekspedisi walau dengan ber-backpacker alias nebeng. Kami menjalankan ibadah disaat keadaan darurat (tiada luang tempat dan waktu) tapi tetap melaksanakan perintah untuk bersujud yaitu shalat yang ditegakkan. Sahabat, memang demikian adanya kami para pendaki dan backpacker’s. Ada suatu kalimat yang menggelitik, “Apakah para pendaki dan backpacker’s masuk Syurga?”.

 

 

Jaring – Jaring sang Rembulan (Lawu 23.00 WIB)

 

 

Kembara sang bulan menyisir keredupan, berbisik lirih tentang senyum kecil saat purnama datang, menabur jaring-jaring kerinduan antara awal datang dengan batas akhir bentang cakrawala,

perlahan menghapus napas-napas yang lelah itu,

menyempurnakan pencarian hakekat tentang kekuasaan-Mu…

Kasih-ku…,

Langkah-langkah ini terhimpun kala suasana menciut sunyi, disaat inginku memohon harapan-Mu kuselami, diwaktu helaan napas seakan terhenti,

pelan dan pelan menuju dzikroyat putih kesucian.

Kasih-ku…,

Alangkah terasa berat beban, terlentang dalam panjangnya diorama kehidupan,

Tak bisa kutanggalkan lagi tumpuan yang menuju kemunajad-tan

Tubuh ini seakan meregang melintas rimba-MU diguyur terik matahari

Kasih-ku…,

Aku mempunyai keinginan, dimana lautan Kuasa-Mu menjadi tempat arungku, sampai lepas habis sang jantung berdetak kau mengambilku, kala manusia-manusia bertanya siapa dirinya,

dikala pagi telah menanyakan embunnya, dan disaat tidak lagi saling mengenal diantara mereka.

Kasih-ku, aku rindu…

semburat nikmat,

secarik hidayah,

semilir peluh kesyukuran,

sebaik pengingat,

dan penentu ajal keabadian…

Kasihku….,

Tidak banyak yang sadar dari perhitungan-Mu,

Tidak sedikit orang yang lupa menerjemahkan matahari dunia-Mu yang panas

yaitu sederet nikmat dan cobaan, dimana banyak hakekat tersembunyi,

Kasihku, rengkuhlah dan dekap aku sembari ku menutup usia…

 

Tiada akan sirna kasihku pada-Mu, tiada kulupa kuasa-Mu padaku, tiada berhenti sujudku pada-Mu,

Kasih-ku, sejuk ridho-Mu selalu melepas dahagaku, namun apakah Engkau dekat denganku?”

 

Sekian –

3 Responses

  1. kangeeeeennn ma lawu….

  2. terimaksih sudah komen sodara…ya lawu ada cerita tersendiri buat sya…tetp semangat menjaga alam..

  3. ada niat pengen mendaki gunung..tp saya belum pernah sama sekali mendaki gunung..bagaimana solusi nya yaa kawan kawan .saya cinta alam pegunungan ada niat mendaki tp gk punya group pecinta gunung..6287836214456

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: