”Rangkuman Komunikasi Politik suatu Pengantar”

1. Komunikasi dan politik hubungan dalam teori dan praktek

Hubungan antara komunikasi dan politik setidaknya dapat diulas dengan melihat :
1. Bagaimana interakasi kedua disiplin ilmu ini di bidang teori dan perkembangan konsep-konsep.
2. Hubungan di anatara keduanya dalam kehidupan nyata.
Schramm (1980) menempatkan Harold D. Lasswell (1902-1980) sebagai bapak pendiri studi komunikasi. Tahun 1927 menulis “Propaganda Technique in the World War” (New York Alfred A. Knof) sebagai disertasinya. Semasa hidup lasswell menulis banyak buku dintaranta, “The structure and functions of communication in society dimana ia mengajukan rumus “who says what to whom,with what channel and with what effect” yang menjadi rumusan penting yang tidak akan dilupakan hingga masa sekarang bagi para ilmuan komunikasi. Ilmuan politik lain yang berperan dalam memperkaya ilmu politik adalah Ithiel deSola Pool, V.O.Key,Gabriel A. Almond, Freederick W. Prey

Komunikasi politik berlingkup Nasional dan Internasional

Perlu dicatat bahwa ruang lingkup yang dibahas dalam tulisan ini adalah politik domestic (nasional) bukan internasional. Karena Politik Internasional merupakan penggunaan komunikasi politik oleh Negara-negara nasional untuk mempengaruhi perilaku orang yang berkaitan dengan politik di Negara-negara lainnya (Davison dan George,1952).

Komunikasi Politik dalam praktek

Dalam kehidupan nyata sehari-hari, semua orang baik pejabat maupun warga sipil memerlukan informasi mengenai apa yang terjadi di sekelilingnya agar ia memperoleh bekal yang cukup untuk mengambil keputusan dalam menjalani agenda kehidupan masing-masing. Menurut Davison 1965, banyak dari karakteristik demokrasi yang tergantung pada adanya akses yang bebas bagi semua orang kepada saluran-saluran komunikasi , baik dalam kedudukan sebagai Source/ sumber informasi atau juga sebagai receriver audience/ penerima pesan. Adfapun karakteristik demokrasi yang dimaksudnya adalah :
1. kompetisi yang bersifat non-kekerasan diantaranya adalah kekuatan politik dalam suatu bangsa. Adanaya mekanisme yang teratur uantuk pengalihan kekuasaan dari suatu kelompokmke kelompok lain.
2. kemampuan yang berada di luar pemerintahan dapat mempengaruhi tinadakan pemerintah.
3. pemerintah yang lebih mengandalkan persuasi dan bukannya pada kekuatan, untuk mencapai tujuan kebijakan dalam negeri.
Kaitan demokrasi dan komunikasi terlihat ungkapan Davison 1965, “…Demokrasi, bagaimanapun lebih dari sekedar jaringan kelompok-kelompok yang bertanding; melainkan merupakan suatu keseluruhan yang luas, yang karenanya membutuhkan suatu jarungan komunikasi yang akan membantu menjaminkepaduan internal (internal integration). Memantapkan nilai-nilai demokrasi dan membantu pembentukan suatu opini public nasional tentang issu-issu yang vital…”.

2. Komunikasi politik sebagai suatu bidang kajian

Komunikasi politik, oleh Blake dan Haroldsen 1975, digolongkan sebagai salah satu bentuk (form) komunikasi di samping sembilan bentuk yang lain, yaitu komunikasi intra-pribadi, antar pribadi, komunikasi organisasi, rumor, komunikasi massa, telekomunikasi, dan komunikasi non-verbal.
Ada yang memberikan pengertian bahwa komunikasi politik adalah “segala komunikasi yang terjadi dalam suatu system politik dan antara system tersebut dengan lingkungannya. Cakupannya meliputi studi mengenai jaringan komunikasi (organisasi, kelompok, media massa, dan saluran –saluran khusus) dan determinan social ekonomi dari pola-pola komunikasi yang ada pada system yang dimaksud”, (Fagen, 1966).
Muller 1973, “Hasil yang bersifat politik (politic outcomes) dari kelas social, pola bahasa, dan pola sosialisasi”. Galnoor 1980, infrastruktur politil yakni suatu kombinasi dari berbagai interaksi social di mana informasi yang berkaitan dengan usaha bersama dan hubungan kekuasaan masuk ked lam peradaban”.

Lingkungan studi komunikasi politik
Dengan memperhatikan berbagai gambaran permasalahan yang berkaitan dengan sistem dan kehidupan politik, terasalah perlunya suatu kerangka kajian yang dapat dijadikan patokan dal menjelajah lingkup studi komunikasi politik. Hal yang seyogyanya menjadi pokok-pokok bahasan komunikasi politik? Fagen 1966 seperti dikutip oleh Alnoor 1980 menilai bahwa kepustakaan mengenai komunikasi politik hinggan saat tersebut kerapkali terbatas baru pada aspek-aspek politik dari berbagai media komunikasimassa saja, atau pada setiap aktifitas komunikasi yang menurut pertimbangan bersifat politik dalam arti implikasinya bagi suatu sistem politik.
Petunjuk yang dikemukakan Pye 1963 : “Dengan menyoroti permasalahan masyarakat dan individu dan bahkan lebih penting lagi, dengan penekanan persisi pada tatacara di mana kedua dimensi kehidupan manusia ini saling berhimpitan satu sama lain. Pendekaan komunikasi dapat memberikan suatu cara untuk menangkap seluruh persoalan yang paling fundamental dalam pembangunan politik.
Dengan demikian sudut tinjuan komunikasi politik adalah memungkinkan pada masalah-masalah :
• Menghubungkan pembangunan media massa, organisasi-organisasi artikulasi politik dan pernyataan kepentingan, dan dan pembentukan opini kolektif, dengan rekasi individual terhadap tantangan ide-ide baru, peradaban mereka atas nilai-nilai yang saling bertentangan dan pencarian mereka akan perspektif-perspektif baru.
• Menunjukkan bahwa seluruh problematika yang kompleks tersebut mendasari permasalah umum consensus politik.
Almond dan Powell memberikan batasn :
1. Arus informasi yang paling umum dan signifikan dalam sistem-sistem poitik.
2. Struktur-struktur yang menampilkan aktivitas komunikasi politik itu dapat dianalisis dan dibandingkan. Dengan cara ini, analisi komunikasi mendapat manfaat sebagai suatu fokus yang terintegrasi ked lama framework ilmu politik.
3. implikasi penampilan fungsi komunikasi terhadap fungsi-fungsi politik yang lain juga dapat dipelajari. Pembuatan dan pelaksanaan keputusan-keputusan politik misalnnya, jelas tergantung pada informasi yang akurat dan pengkomunikasian pesan-pesan politik yang efektif kepada mereka yang berada di lapisan yang lebih rendah, baik sipil maupun militer, yang terdapat di seluruh wilayah sistem politik yang bersangkutan.
4. analisis terhadap penampilan funfsi komunikasi oleh berbagai struktur san dengan bermacam cara, juga dapat mengungkapkan masalah endemic yang dihadapi oleh sistem dalam memelihara dan mempertahankan tingakat penampilan yang bersifat publik. Dalam hal ini, analisis komunikasi memberi jalan bagi setiap prediksi dan pemahaman atas pengembangan sistenm politik, sekaligus perincian lebih lanjut dalam melakukan pembedaan anatr sistem-sistem politk yang beraneka.

Perkembangan Komunikasi Politik Kontemporer
Menurut Nimmo dan Sanders 1981, tumbuhnya komunikasi politik sebagai suatu bidang yang bersifat lintas disiplin dapat ditelusuri sejak tahun 50-an. Sebagai contoh yang dikemukakan penampilan “komunikasi politik” sebagai salah satu dari tiga proses intervening (yang dua lagi adalah kepemimpinan politik dan struktur kelompok) dengan mana pengaruh politik dimobilisasikan dan ditransmisikan antara lembaga pemerintahan formal di satu pihak, dengan perilaku voting warga negara di lain pihak.
Penelitian
Dalam menggambarkan tumbyuhnya komunikasi politik pada era 50-an, Eulau et al. 1956, mencatat tiga studi kasus masing-masing ;
1. yang menggunakan disain post facto experimental untuk mengkaji effek televise dalam pemilihan presiden 1952.
2. yang menggunakan field experiment mengevaluasi keefektian teknik-teknik propaganda.
3. analisis isi terhadap bahasa politik.
Ketiga masalah bahasan di atas tetap menjadi pokok bahasan bagi sarjana komunkasi politik hingga saat ini.
Domain Publikasi
Salah satu indikator bahwa suatu lapangan penelitian memperoleh indentitas tersendiri di kalangan ilmu-ilmu social adalah tampilanpenerbitan ilmiah yang diperuntukkan khusus bagi penelitian dan tulisan spesialisasi yang dimaksud. Komunikasi politik kini memiliki Political Communication Review yang mempiblikasikan kecenderungan mutahir, daftar tulisan yang tidak diterbitkan dan review atas buku dan karya ilmiah lainnya.

Pengajaran Komunikasi Politik
Komunikasi politik menjadi suatu kajian yang menarik dn penting dengan melihat efek manfaat bagi politik itu sendiri juga berpusat pada tatanan yang dinamis.

3. Proses Komunikasi Politik dan Komponen-Komponennya
Komunikasi adalah suatu pengiriman pesan dari communicator ke pada receiver melalui suatu channel dan menimbulkan efek setelahnya.
Proses komunikasi politik
Seperti bentuk komunikasi yang lain, komunikasi politik berlangsung sebagai suatu proses penyampaian pesan-pesan tertentu yang berasal dari sumber kepad akhalayak, dengan menggunakan suatu media tertentu uanutk mencapi suatu tujuan yang telahtertentu pula. Unsur-unsur tersebutlah yang memungkinkan terjadinya suatu komunikasi politik dalam suatu masyarakat. Sekalipun keluaran komunikasi politik pada akhirnya ditentukan oleh semua unsur tersebut masing-masing unsur perlu juga dilakukan.

Komponen Sistem Komunikasi Politik
Gurevitch dan Blumler 1977, mengemukakan bahwa dalam arti yang luas, komponen utama dari suatu sistem komunikasi politik dapat ditentukan pada :
1. lembaga-lembaga politik dalam aspek komunikasinya.
2. institusi-institusi media dalam aspek-aspek politiknya
3. orientasi khalayak terhadap komunikasi politiknya.
4. aspek-aspek budaya politik yang relevan dengan komunikasi.

Komunikator dalam Komunikasi Politik
Pejabat pada pemerintah, politisi dalam partai politik, pemimpin opini dalam organisasi kemasyarakatan, jurnalis dalam media massa, aktivis dalam kelompok penekan, pemimpin dalam suatu badan atau perusahaan.
Kedudukan birokrat sebagai komunikator erat hubungannya dengan perkembangan birokrasi yang di waktu belakangan ini bertambah meluas dan membesar. Meningkatkan spesialisasi fungsi baik di dalam maupun antar organisasi merupakan salah satu penyebab kecenderungan itu. Bertambahnya birokrasi menurut Katz dann Danet 1973, membawa implikasi yang penting :
1. tumbuhnya konsentrasi yang meluas dari kekuasaan, sehingga pada arah yang lain orang-orang biasa boleh jadi merasakan seakan-akan tidak berdaya sama sekali.
2. transformasi bentuk dan sifat hubungan-hubungan antara pribadi di antara sesame anggota masyarakat.
Pye 1963, menggambarkan karakteristik yang mencolok dari proses momunikasi pada masyarakat tradisional yaitu :
1. tidak terorganisir sebagai suatu sistem yang jelas terbedakan dari proses-proses sosial yang lain.
2. mereka yang berpartisipasi dalam proses komunikasi tersebut, melakukan atas dasar posisi sosial atau politik yang diduduki oleh yang bersangkutan dalam masyarakat dan sepenuhnya menurut ikatan pribadi mereka.
3. informasi biasanya mengalir mengikuti garis hirarki sosial atau menurut pola yang telah tertentu berdasarkan hubungan sosial pada tiap komunitas.
4. proses komunikasi tersebut tidak independent dari suatu aturan hubungan sosial, ataupun isi komunikasi yang disamapaiakan. Penyebabnya adalah akarena proses komunikasi yang dimaksud umumnya erat berkaitan dengan struktur dasar masyarakattrdasional, maka tindakan mengevaluasi, mengintepretasi dan memberkan respon terhadap segala aktifitas komunikasi umumnya diwarnai oleh pertimbnagan yang langsung berhubungan dengan hirarki status antara komunikator dengan khalayak.

4. Komunikasi Politik dan Sistem Politik
Sistem politik, konsep sistem politik menurut Almond dan Poewl 1966 memperoleh nilai yang luas, karena menunjuk kepada seluruh lingkup aktifitas politik dalam masyarakat, terlepas dari soal aktifitas tersbut berada dalam masyarakat yang dimaksud.
Menurut Almond 1960, sistem politik adalah sistem dari interasi-interaksi yang terdapat disemua masyarakat yang merdeka, yang melaksanakan fungsi-fungsi integrasi dan adapatasi (baik internal maupun eksternal) dengan cara (nacaman untuk) menggunakan kurang lebih paksaan fisik. Yang dimaksud paksaan fisik adalah pembeda antara sistem plitik satu dengan istem politik yang lain, karena hanya dengan merumuskan definisi yang spesifik seperti itu baru dapat dilakukan pembeda, meskipun tidak dimaksudkan untuk merendahkan derajad politik menjadi kekuatan. Komunikasi politik di dalam sistem poitik menjadi hal yang saling mengisi, Karena dalam sistem politik terdapat komponen sisten politik yang dimana mereka aktif unutk melakukan komunikasi politik guna memberikan maksud tujuannya.

5. Opini Publik dan Komunikasi Politik
Nilai nilai yang secara singkat merupakan prefensi yang dimiliki seseorang untuk tujuan tertentu, atau cara-cara untuk melakukan sesuatu. Nilai berkaitan erat dengan effektif atau perasaan sisi image pribadi yang membantu seseorang dalam mengevaluasi dirinya sendiri ataupun lingkungannya. Seperti mana keyakinan tadi, maka nilai-nilai pun bermacam-macam dalam hal arah. Intensitas nilai tertentu bagi seseorang, menurut Sullivan 1970, nilai-nilai bersumber dari dua kebutuhan yaitu kebutuhan pemenuhan persyaratan dan tekanan survival biologis dan pikologis, serta kebutuhan akan keamanan.
Kebutuhan akan pemuasan dan keamanan seperti ini dikemukakan oleh Sullivan 1950, yang melengkapi kategorisasi dari Lasswell dan Kaplan 1950 :
1. nilai-nilai kesejahteraan yang mencakup pencarian akan kesejahteraan, kemakmuran, ketrampilan dan enlightenment.
2. nilai-nilai deferensi (defefence values) seperti penanaman respek suatu reputasi moral rectitude, perhatian dan polularitas serta kekuasaan.

Publik bukan berarti umum, Publik adalah orang-arang yang sama minat dan kepentingan terhadap sesuatu issu. Seperti diketahui dalam kehidupan masyarakat modern terdapat banyak sekali interest group atau kelompok kepentingan yang berati banyak pula publik. Selanjutnya publik masih bias dibagi dua, yaitu general public dan special public (weclch dan Comer, 1975). Opini publik digambarkan oleh Nimmo, 1978 sebagai “suatu proses yang mengabungkan pikiran, perasaan, dan usulan yang dinyatakan oleh pribadi warga Negara terhadap kebijakan yang dibuat oleh pemerintah yang berkuasa untuk mencapai ketertiban sosial dalam siatuasi yang menyngkut politik, sengketa, dan ketidaksepakatan mengenai apa yang harus dilakukan, dan bagaimana melakukan”.
Perilaku media para pemimpin opini menunjukkan cirri-ciri :
a. bahwa seorang pemimpin opini di bidang tertentuumumnya dalam bidang fashion, politik dan sebagainya, lebih terbuka bagi media dan sesuai dengan bidang yang dimaksud (Katz, 1962).
b. Seorang pemimpin opini yang pengaruhnya berkenaan dengan hal-hal yang bersifat kosmopilitan (berorentasi dengan dunia luar tempat tinggalnya), umumnya mengikuti media yang berlingkup nasional.
c. Di kalangan para opini berlaku pula principle of selective exposeure yakni pemilihan media yang bertautan dengan selera ataupun kepentingan mereka (klapper, 1962).
d. Pengenaan media seorang pemimpin opini terutama lebih berat pada media yang berkaitan dengan lingkup dan sifat pengaruh yang dimliki oleh pemimpin dari kelompok opini yang bersangkutan (kazt, 1962).
Kemapuhan media massa dalam mempengaruhi pembentukan perengai masyarakat seperti kebanyakan dugaan selama ini ternyata tidak dalam arti secara langsung terjadi.

Moek07

2 Responses

  1. ThankZZzzzzz BuaNgeT..nGeT..nGet…nGett..buaT iNfonYa yA (^_^)

  2. Ukkeyyy kawan,,,saling membantu……!!!! (^^)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: