Pengaruh Sistem Politik pd Komunikasi Politik (Masa Orde Baru-Reformasi)

Media sebagai sarana Komunikasi Politik

Berbicara tentang media sebagai sarana komunikasi politik, terasa sangat penting dan relevan. Ada beberapa alas an yang mendasar atas pemikiran ini, yaitu : Pertama, media merupakan aktor politik yang secara pasif, serempak, dan rutin terus melakukan sosialisasi politik terhadap pembaca dan pemirsanya yang bersifat heterogen. Dalam waktu yang lama, tentu saja terpaan media (media eksposure) ini akan membentuk persepsi, sikap, dan perilaku politik tertentu. Dengan demikian kesadaran politik dan partisipasi politik berbagai kelompok masyarakat akan terus terbentuk lewat dukungan komunikasi bermedia atau komunikasi politik media. Kedua, makin besarnya kesadaran politik dan partisipasi politik masyarakat dewasa ini yang didukung oleh tersedianya banyak media serta altenative isi yang disajikan. Maraknya industri media khusus yang datang belakangan ini, seperti televisi swasta, dan media interaktif lainnya seperti internet telah memungkinkan tumbuhnya pluralisme gagasan, diskusi publik, dan keaneragaman sumber untuk mengakses informasi. Ketiga, keaneragaman sumber pesan, bisa melahirkan publik-publik baru yang heterogen. Orentasi, aspirasi, dan visi politiknya pun saling beraneka ragam. Keempat, sejalan dengan berkembangnya industri media, peningkatan ekonomi dan pendidikan telah melahirkan kelompok-kelompok professional baru yang hidupnya amat tergatung pada informasi.
Dengan kondisi yang bergantung demikian maka perlu diketahui tentang fungsi dan peran media yang ideal, yaitu : Fungsi media massa sebagai komunikasi politik, media massa merupakan salah satu media komunikasi poltik yang akan menjadi jembatan penghubung antara struktur dalam sistem atau antara suprastruktur dan infrastruktur. Karena media memiliki kekuatan yang efektif dalam konteks politik yang bersumber pada tiga hal seperti struktural, psikologis, dan normativ.
Peran media dalam komunikasi politik, dalam aktifitas komunikasi politik posisi media punya peran yang amat penting karena pesan komunikasi politik yang disajikan/disampaikan melalui media massa merupakan sebuah dukungan maupun tuntutan serta kebijakan publik yang diambil oleh pemerintah. Dalam konteks ini maka pesan yang disampaikan melalui media massa juga dapat berupa konflik yang terjadi didalam masyarakat. Konflik tersebut merujut pada tidak adanya kesepakatan individu atau antar kelompok. Sehingga dengan demikian maka dalam lingkup komunikasi politik posisi media massa memerankan peran yang sangat penting karena media massa merupakan alat penghubung antara kepentingan infrastruktur dan suprastruktur. Pesan komunikasi politik yang akan tersaji dalam media massa bisa berupa dukungan atau tuntutan kebijakan yang diambil oleh pemerintah.
Kompleksitas yang terjadi dalam masyarakat menyebabkan media massa dalam menginformasikan aktifitas komunikasi terjebak dalam konflik kepentingan antara infra-struktur maupun supra-struktur. Ukuran sebuah konflik (pembersaran atau pengecilan isi berita) dapat dicermati melalui keterlibatan media pada konflik itu. Media massa dikatakan sebagai pihak pencerita yang dalam keterlibatannya mempunyai tiga sifat, yaitu mempertajam konflik (intersifier), meredakan konflik (diminisher), atau pihak yang netral atau pihak ketiga (third party).
Peran media dalam percaturan politik kontemporer memaksa kita untuk mempertanyakan kembali kepada dunia dan masyarakat apakah yang ini sudah adil?. Untuk lebih spesifik lagi, demokrasi seperti apakah yang kita inginkan di masyarakat yang demokrastis ini. Masyarakat yang demokratis adalah masyarakat yag mana publik memiliki alat yang cukup berpengaruh untuk berpartisipasi dalam mengtur urusan-urusan mereka sendiri. Disamping itu, alat-alat informasi bersifat terbuka dan bebas. Konsep yang lain dalam demokrasi adalah bahwa publik harus dihalangi dalam usahanya dalam mengatur urusan mereka, dan alat-alat informasi harus senantiasa dikontrol secara ketat.
Contoh nyata dalam kaitannya media sebagai alat komunikasi politik misalnya, saat sosialisasi kampanye calon presiden dan wakil presiden. Pada kampanye calon presiden dan wakil presiden tahun 2009 ini telah terlihat wujud dari sosialisasi politik berhubungan dengan visi dan misi calon kepada rakyat. Hal tersebut termasuk bagian dari komunikasi politik kontemporer melalui media sebagai salah satu alat komunikasi politik, baik dalam media cetak maupun elektronik. Hal ini memang telah diatur dalam suatu tata penyejian iklan kampanye media. Namun nilai nominal spot iklan-pun mencekik parpol dengan uang paspasan. Belum lagi dengan adegan rumah tangga yang dibawa oleh elit politik yaitu “susp-suapan”, jadi bagaimana ini?.
Terkait dengan komunikasi politik didalam proses kampanye, Dr. Kusnanto Anggoro selaku pengamat politik dari CSIS yang menyatakan bahwa pemilihan presiden secara langsung pada era reformasi ini dipandang lebih baik dari pada era sebelumnya. Ia menilai tokoh karismatik akan beruntung dengan pemilihan secara langsung itu, misalnya Megawati Soekarno Putri, Abdurrahman Wahid, dan Wiranto. Yang menjadi catatan saya adalah terjadinya konflik horizontal pada lini atas maupun bawah pada pemerintahan yang demokratis seperti sekarang ini.

Keadaan Sistem Politik dan Komunikasi Politik di dalam Media

Apa kita semua mengetahui bahwa tata sikap dan cara berfikir kita juga dipengaruhi oleh media. Hampir dalam setiap kehidupan kita dipengaruhi oleh arus informasi, di dalam media tersebut tidak terlepas dari suatu hasil penghimpunan fakta yang disajikan kepada khalayak. Di dalam elemen-elemen jurnalisitik terdapat fungsi media sebagai pemantau politik kekuasaan, dalam pengartian fungsi media sebagai pemantau dan sebagai alat mengkritisi terhadap suatu kejadian politik didalam suatu sistem kekuasaan. Hal ini menjadikan media juga berperan aktif dalam menciptakan “keterbukaan” dalam sistem politik pada rakyat, bahkan media dipandang menjadi kekuatan keempat dalam suatu Negara setelah tiga kekuatan trias politika.

Dunia politik sangat menunjukkan perubahan yang bervariasi menurut perubahan kekuasaan yang sedang bergulir. Hal ini memungkinkan adanya kekuatan media yang cenderung berubah-ubah secara praktik-konten namun di dalam landasan media itu sendiri tetap merujuk kepada peraturan atau dasar jurnalisme yang berlaku, salah satunya yaitu unsur kebenaran. “Walter Lippmann pada tahun 1920, mengatakan, “Sebuah komunikasi tak bisa merdeka bila kekurangan informasi, karena dengan informasi yang cukup kebohongan bisa dideteksi”. Sistem politik Indonesia rupanya ikut mempengaruhi jalannya media dalam menyajikan pemberitaan, pada masa orde lama sampai orde baru kita hanya menjumpai jumlah media yang sedikit sekali, bahkan yang sedikit itu dikuasai pula oleh pemerintah dalam hal aktifitas kemediaannya.

Praktik komunikasi politik di dalam media selalu mengacu pada sistem politik yang berlaku. Pada suatu Negara yang menganut sistem politik tertutup biasanya bentuk komunikasi politik bermedia-nya mengalir dari atas (penguasa) ke bawah (rakyat). Komunikasi politik semacam itu menerapkan paradigma komunikasi top down untuk mewujudkannya. Hal ini memberikan kesan media hanya menjadi alat “transmisi” kepentingan saja, lain dengan bottom up atau penarikan aspirasi rakat kepada pemerintah. Sistem politik itu sendiri berpengaruh hebat dengan kegiatan media itu sendiri. Komunikasi politik semacam ini banyak dipraktikkan para penguasa ketika Indonesia menganut sistem politik tertutup. Ketika rezim Orde Lama berkuasa, pesan politik yang mengemuka di media massa pada umumnya berisi konflik, kontradiksi yang seram, dan hiperbola. Pesan-pesan politik semacam itu kemudian jarang ditemui di media massa semasa Orde Baru berkuasa. Pada era ini, pesan-pesan politik lebih banyak bermuatan konsensus dan kemasan eufemisme. Meski pada era itu berbeda penekanan pesan politiknya, namun hakikatnya tetap menerapkan komunikasi satu arah (linier). Pesan-pesan politik sebagaimana mengemuka pada orde lama-baru itu dipandang oleh para pengamat politik masih banyak ditemukan pada era reformasi, terhitung kurangnya peran komunikasi politik bermedia dalam pendekatan bottom up.

Banyak media yang sudah memberikan adanya peran pengawasan ke atas (bottom up) dengan membuat reportase sampai interaktif commincation pada undangan “elit maupun/ pemerintah”. Sejak Soeharto lengser pada 21 Mei 1998, sistem politik tertutup diganti dengan sistem politik terbuka. Perubahan sistem politik ini idealnya mengubah pendekatan komunikasi politik di dalam media dari satu arah menjadi banyak arah. Pada suatu saat menggunakan pendekatan top down, pada saat lain menerapkan pendekatan bottom up, dan pada kesempatan lain memperagakan paradigma horizontal. Pendekatan mana yang digunakan tergantung siapa yang menyampaikan pesan politik dan kepada siapa pesan itu ditujukan. Muatan pesan juga menentukan paradigma komunikasi mana yang digunakan. Pendekatan tersebut tidak lagi menganggap penerima pesan politik tidak lagi sebagai pihak pasif, menelan begitu saja pesan politik namun ikut aktif dalam memberikan tanggapan atas pesan politik yang disajikan dan disinilah peran media untuk melukakan pengawasan pada suatu pemerintahan.

Sebelum Sistem politik era reformasi-pun memberikan analogi yang tidak ‘sebersih’ yang digembor-gemborkan, media hanya difungsikan untuk melakukan komunikasi politik untuk menarik perhatian masyarakat namun tidak dalam cara penyaluran memperjuangkan kepentingan rakyat. Media adalah korban bisu namun dapat terlihat jelas bagaimana “pembredelan tempo, editor dan detik (eros djarot)” itu terjadi. Namun dengan adanya reformasi media telah menyudahi tidur panjangnya sejak orde lama-orde baru. Kebebasan media dalam memberikan informasi untuk melakukan reportase, verifikasi, penengah konflik dan semacamnya telah dapat berjalan dengan apaadanya tanpa preasure dari pihak lain. Media sebagai pemantau kekuasaan sangatlah berarti di dalam Sistem politik terbukan yaitu Negara dengan landasan demokrasinya seperti Indonesia.

Kesimpulan :

Sistem politik di Indonesia yang berubah-ubah sangat mempengaruhi gaya komunikasi politiknya. Hal tersebut juga terasa dalam komunikasi politik di media, sistem politik semasa orde lama hingga orde baru mempunyai kecenderungan “tertutup” yang mengakibatkan komunikasi politik di media menjadi top down. Komunikasi politik top down adalah komunikasi dari lini atas (penguasa) kepada rakyat atau pihak dibawah, ciri komunikasi bermedianya adalah satu lini saja, dan bersifat transmision. Sedangkan, pendekatan komunikasi bottom up, dari rakyat untuk melakukan interkasi pada pemerintah tidak begitu terlihat dari era tersebut karena arus komunikasi sengaja dibuat seperti itu (Sistem politik tertutup).
Sistem politik ‘terbuka’ era reformasi menjadikan perombakan komunikasi politik media menuju suatu perbaikan, dimana kebebasan bermedia mulai muncul dan penerima pesan politik dipandang aktif/ tidak pasif lagi. Fungsi media sebagai media komunikasi politik dan pemantau kekuasaan berjalan dengan apaadanya, selain itu media sebagai salah satu aktor politik telah bisa menjalankan fungsi-fungsinya seperti ; reportase, penengah isu politik, mengetengahkan solusi sampai pada sarana publik untuk bersuara-pun bisa berjalan pada era sekarang ini, ciri komunikasi politik bermedia telah terdiri dua arah. Sedikit permasalahan pada era reformasi ini, yaitu lagi-lagi fungsi komunikasi media dalam ranah politik dari rakyat kepada pemerintah masih terasa kurang (bottom up) dan komunikasi politik horizontal-pun muncul sebagai momok baru yaitu komunikasi antar elit satu dengan elit lain yang horison. Komunikasi horizontal tersebut menunjukkan komunikasi kepentingan elit politik dengan elit lain. Hal ini dilakukan demi kelangsungan strategi politiknya. Suatu pertanyaan apakah komunikasi horizontal itu terdapat kepentingan rakyat?. Ironis memang, kita harapkan Indonesia bisa bangkit dari keadaan ini, namun hal yang bisa kita bisa ambil adalah kepentingan rakyat harus tetap diperhatikan tanpa alasan apapun serta komunikasi politik yang telah ada dapat mencerminkan kebaikan untuk rakyat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: