Nasihat-nasihat

Ketika Hasibaun, anak muda yang menumpang di kamar depan menceritakan kesulitannya, dengan penuh perhatian ia mendengarkan. Memang selama wajahnya kalihatan sungguh-sungguh, bila setiap orang mengemukakan kesulitannya untuk meminta sekedar nasihat yang berharga. Sikapnya ini menyenangkan hati orang. Sedang rambut dan kumisnya yang lebat dab telah putih seluruhnya itu, memberikan keyakinan dalam setiap hati yang dilanda kerisauan, bahwa dari padanya saja nasihat yang baik memancar.

Nasihat orang tua itu selamanya berharga. Karena itu, setiap orang tak berani memulai sesuatu sebelum diminta nasihatnya. Dan jikalau orang lupa meminta nasihat kepadanya, mereka itu merasa berdosa sekali. Namun demikian, biar orang lupa dan tak butuh nasihatnya pun, ia mampu memperlihatkan kebesaran jiwanya. Cepat-cepat ia memberikan nasihatnya. Dengan penuh kesungguhan dan dengan segala pertimbangan yang sangat masuk akal.

Pada setiap perkumpulan namanya pastilah tercantum sebagai penasihat. Kalau tidak diminta, ia sendiri akan menawarkan dirinya. Dan tak satu pun dari perkumpulan itu yang menolak. Meski di antara perkumpulan itu saling berlawanan asas.

Dan ketika Hasibuan, anak muda yang menumpang di kamar depan menceritakan kesulitannya demikian hilang akal, ia tidak tersenyum melecehkan. Sealanya dipandangnya berat, walau kadang-kadang ia tahu soalnya adalah tetek bengek saja.

“Itulah semua,” ujar Hasibuan dengan nada putus asa. “Berilah aku nasihat. Apa yang harus kulalkukan lagi?”

Sebagaimana mestinya, orang tua itu tidak lantas meluncurkan nasihatnya yang keramat. Lebih dulu ia lepaskan punggungnya ke sandaran sofa dengan selelahnya. Diisapnya lagi cangklongnya beberapa kali. Dan asapnya yang mengepul dari bawah hidung, dipandangnya beberapa jurus. Seolah pada asap itu terlukis segala ilham nasihatnya.

“Ini memang sulit,” katanya dengan pasti. “Apabila kau betul-betul menurutkan nasihatku, tidaklah akan sulit benar. Mudah benar mengatasinya.”

Anak muda itu tidak bergerak dari sikapnya semula, meski ia gelisah benar oleh lambatnya orang tua itu bicara.

“Mari kita mulai dari awal,” kata orang tua itu selanjutnya. “Sebenarnya apa yang kau kemukakan itu, menurut timbanganku, tak mungkin bisa jadi. Coba. Seorang gadis, ya seorang gadis. Apalagi gadis desa pula. Ia pasti sangat pemalu. Sopan. Dan halus budinya.”

Hasibuan merasa, bahwa ucapan orang tua itu seperti menuduhnya telah berbicara yang bukan-bukan. Dan ia mau meyakinkan orang tua itu. Tapi sebelum ia selesai menyusun kalimat yang hendak di ucapkannya, orang itu berkata lagi. Katanya, “Aku sudah tua. Sudah banyak pengalaman. Aku sudah mengerti benar segala sifat dan fiil manusia. Bahkan dari setiap muka seseorang aku dapat membaca segalanya. Tentang itu aku takkan silap. Percayalah.”

Hasibuan jadi lega hatinya.

“Coba kaubayangkan kembali. Seorang gadis desa yang seharusnya pemalu, tahu adat, sopan, duduk disamping seorang laki-laki tidak di kenal di atas bis. Omong-omong sedikit dan sudah pasti tentang hal-hal yang tidak berarti. Lalu ketika hendak berpisah, laki-laki itu bertanya, ‘Mau ke mana?’ Dan gadis itu menjawab dengan tegas, ‘Ke mana Abang, ke sana aku.’ Masya Allah. Tentulah gadis itu gila. Ya, tentulah dia gila,” kata orang tua itu seraya memandang kepada Hasibuan yang duduk di hadapannya. “Apa kau tak sadar gadis itu gila?”

“Tidak sama sekali.”

“Tentu saja kau tidak sadar. Karena kau masih terlalu muda. Belum banyak pengalaman. Percayalah kepadaku, orang tua yang sudah banyak pengalaman ini. Gadis itu pasti gila. Nah, nasihatku dalam hal ini, begini: Jauhi dia. Elakkan dia bila bertemu di jalan. Kalau bertemu juga, jangan disahuti tegurannya. Mudah-mudahan, jika kau ikuti nasihatku ini, Insya Allah kau pasti selamat. Dunia akhirat.”

Hasibuan bertanya pada dirinya sendiri. Dapatkah ia mengikuti nasihat orang tua itu? Kemarin gadis itu, yang sampai saat itu tak pula diketahui namanya, duduk disampingnya di atas bis. Setelah omong-omong yang tidak berarti, tiba-tiba gadis itu menyandarkan kepalanya ke bahunya. Bilang, kepalanya sakit benar. Dan hati mudanya menyuruh memeluk gadis itu. Dan dipeluknya gadis itu. Kemudian, gadis yan tak hendak berpisah lagi dengan dia itu, ditumpangkannya ke rumah seorang kenalannya di tepi kota. Dan pada gadis itu ia sudah berjanji hendak menemuinya besok pagi.

Ketika pagi datang, sebelum ia menemuinya, lebih dulu ia bicara kepada orang tua itu untuk meminta nasihatnya. Nasihat orang tua itu diikutinya. Tak jadi ia menemui gadis itu.

“Bagaimana?” tanya orang tua itu ketika mereka sedang makan siang.

“Tak aku temui dia.”

“Bagus. Bagus,” kata orang tua itu gembira. “Nasihatku, nasihat orang tua. Nasihat orang tua itu pasti benar, karena orang tua itu telah lama hidup dan banyak pengalaman.”

“Tapi, Pak, jam sembilan tadi, dia yang datang menemuiku di kantor.”

“Tentu saja kau lari terbirit-birit. Ha ha ha. Tampak-tampak saja olehku, bagaimana kau melarikan diri. Ke dalam kakus tentu, ya? Ha ha ha. Dan, ya betapa lucunya itu. Gadis itu tentu dengan sia-sia saja menunggumu, bukan? Dapat saja kubayangkan, bagaimana kecewanya meninggalkan kantormu.”

“Tidak. Tidak seperti itu.”

“Hah? Jadi kau bertemu juga?”

“Ya. Ketika pesuruh kantor memberi tahu, ada tamu untukku, aku tak kira dia yang datang. Ketika ia melihatku ia menangis tersedu-sedu. Hingga semua orang di kantor jadi tahu persoalanku. Aku malu sekali. Dan gadis itu, meski bagaimana aku katakan, tak hendak pergi. Lalu kemudian…..”

“Lalu kemudian?” sela orang tua itu dengan rasa ingin tahunya.

“Aku antarkan dia kembali ke rumah kenalanku itu.”

Orang tua itu begitu kecewanya. Dipandangnya Hasibuan tenang-tenang, seperti hendak menaksir isi kepalanya. Diletakkan sendok garpunya. “Kalau kemarin, dia kaubawa ke rumah kenalanmu itu, itu pantas. Karena hari sudah malam. Tapi sekarang, hari sudah siang. Dia sudah bisa pulang ke rumah orang tuanya di desa. Ada kau suruh dia pulang ke rumah orang tuanya?”

“Malah kuberi dia ongkos?”

“Tapi dia tidak mau?”

“Ya. Dia tak mau. Uangku tak diterimanya. Dia menangis terus. Aku kehilangan akal. Tak tahu aku apa yang harus kuperbuat lagi. Lalu, supaya jangan bikin rewel di kantor, aku bawa kembali ke rumah kenalanku itu. Waktu itu, Pak, aku mendoa-doakan agar aku bisa ketemu Bapak. Biar aku dapat nasihat Bapak.”

Mendengar kalimat terakhir itu, hilanglah sinar mata kecewa orang tua itu. Diambilnya lagi sendoknya. Dan dia makan lagi. Ia mngunyah lambat sekali, sambil merenung-renung juga. Lama kemudian ia berkata lagi, “Hm. Seorang gadis. Gadis desa pula. Yang mestinya pemalu, tahu adat, berkesopanan tinggi, tidaklah akan mau berbuat demikian. Tentunya dia itu gila. Atau sekurang-kurangnya berbuat gila-gilaan. Tentu ada sebabnya. Sangkamu apa sebabnya?”

“Tak dapat aku menyangka apa-apa. dia hanya terus menangis bila di dekatku. Dia tak bicara apa-apa kepadaku.”

“Barangkali kepada kenalanmu itu dia ada bercerita?”

“Kepada kenalanku itu, tidak. Kepada istrinya, ada. Katanya, dia tak hendak pulang ke rumah orang tuanya. Ibunya sudah lama mati. Ketika ia masih kecil benar. Lalu ayahnya kawin lagi. Tiga tahun yang lalu ayahnya meninggal pula. Dua hari yang lalu, ibu tirinya marah-marah kepadanya. Dan mengusirnya pergi. Ia pergi ke Padang. Tiba di Padang, dia tak tahu mau ke mana. Lalu kembali lagi dia ke sini.”

“Omong kosong. Itu cerita licik. Cerita yang hanya di karangnya saja, untukmenarik kasihan hati orang. Coba kaukira, ini negeri Minangkabau tidak akan mungkin itu terjadi. Minangkabau berpagar adat. Taruhlah dia benar diusir ibu tirinya, tapi dia masih punya ninik mamak. Dan ninik mamak-nya pastilah takkan membiarkan keponakannya hidup tersia-sia. Apalagi keponakannya itu, seorang gadis. Tahulah kalau dia pergi tanpa setahu ninik mamak-nya. Biasanya, di negeri Minangkabau yang beradat, jika hilang bercari, jika tenggelam di selami. Takkan dibiarkan anak gadis yang sebesar itu pergi begitu saja. Di sini Minangkabau, Hasibuan. Minangkabau, Hasibuan. Minangkabau yang adatnya tinggi. Tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan. Tidak terpikirkan olehmu sampai sekian jauh?”

“Tidak,” kata anak muda itu dengan suara yang kedengarannya melukiskan bimbang hatinya.

“Tentu saja kau tak sampai berpikir sejauh itu,” kata orang tua itu pula, “Kau masih muda. Sedang aku sudah tua. Sudah lama hidup dan banyak pengalaman. Aku sudah tahu betul akan kongkalikong hidup manusia ini.”
Di pandangnya Hasibuan tenang-tenang, dengan perasaan hati yang puas akan keunggulan dirinya. Tapi kemudian ia meneruskan menambah keunggulannya. Katanya, “Ada hal-hal yang menyebabkan ia tak mau kembali ke kampungnya, menurut sangkamu? Apa tidak terpikirkan olehmu, sebabnya dia tak mau kembali itu, karena memangnya dia telah diusir orang kampungnya?”

“Apa kira-kira kemungkinannya lagi, Pak?”

“Kemungkinannya banyak. Di antaranya minta penyelidikan, yang mana yang lebih benar dari segala macam kemungkinan itu. Tapi bertengkar dengan ibu tiri, terang itu bukan suatu alasan untuk lari. Menurut hematku, gadis itu mungkin tidak gadis lagi. Kegadisannya telah diambil atau diberikannya kepada seorang laki-laki. Kemudian ketahuan. Tapi laki-laki itu tak hendak mengakuinya. Karena malu, dia lari ke Padang. Kemudian dia bertemu dengan engkau. dan punya pekerjaan kantor. Mengerti kau maksudku? Tidak? Siapa tahu, barangkali dia sedang memasang perangkap untukmu.”

“Tidak mungkin sampai demikianbenar,” katra Hasibuan mengemukakan pendapatnya. Tapi cepat kemudian ia seperti terkejut oleh ucapannya sendiri. Dan kepalanya tertekur menyembunyikan muka merahnya.

“Nah, ucapanmu itu, sudah menunjukkan betapa mudamu. Mukamu, gerakmu, dapat aku baca, seperti aku membaca koran saja. Itu saja takkan silap,” kata orang tua itu seraya menusuk sepotong daging dengan garpunya. “Coba bayangkan,” katanya seterusnya, setelah daging itu diletakkan di piringnya. “Seorang gadis desa yang seharusnya pemalu, gadis Minang lagi, dengan begitu saja menyerahkan dirinya kepada laki-laki yang baru dua jam dikenalnya.” Ditatapnya lagi wajah anak muda itu, hendak tahu apakah kata-katanya telah cukup nyata terbayang olehnya. Setelah ia merasa bahwa kata-katanya cukup terbayang, di sambung lagi perkataannya, “Buaya itu, Hasibuan, bukan jantan saja jenisnya. Mengerti kau. Siapa tahu, barangkali dia sedang mengakalimu. Sedang memikatmu supaya kaukawini dia. Karena mungkin jadi sudah hamil. Sekurang-kurangnya, dia hendak mengorek isi kantungmu sampai tandas. Itu paling kurang. Nasihatku dalam hal ini, begini. Meski dia menangis sampai mengeluarkan air mata darah, jangan kaupeduli. Serahkan dia pada polisi. Titik.”

“Menyerahkan dia pada polisi?” tanya anak muda itu tercengang.

“Bukan untuk memenjarakannnya. Tapi untuk menyerahkan kembali ke keluarganya. Karena kau tidak kenal orang tuanya, bukan? Dan dia tidak hendak kembali ke orang tuanya itu. Sebab aku melihat sesuatu yang lebih buruk lagi bakal menimpa kau. Jadi sebelum hal itu terjadi, secepatnya kauberitahukan kepada polisi. Tambah cepat, tambah baik.”

Mendengar nasihat itu, nasi yang terakhir tak dapat dilulurnya lagi. Meski nasi itu sedikit dan telah begitu lumatnya. Diminumnya air cepat-cepat, hingga ia tersedak.

Orang tua itu menyangka, setelah tiga hari berlalu, persoalan Hasibuan beres sudah. Menurut sangkanya, gadis itu telah kembali ke keluarganya. Atau sudah masuk rumah sakit gila. Karena selama tiga hari itu, tiada tanda-tanda adanya kesulitan pada air muka Hasibuan. Dan ia sebagai orang tua, tak hendak menyinyiri urusan orang lain. Anak muda itu sendiri, tampaknya tak lagi hendak bicara tentang soal itu. Ia yakin benar, nasihatnya telah diikuti dengan betul, hingga soalnya sudah lewat seperti angin lalu.

Tapi pada hari keempat, Hasibuan pulang dari kantornya membawa kegugupan. Sangkanya, tentu anak muda itu mendapat kesukaran lain yang berhubungan dengan pekerjaan kantor saja. Ia menunggu anak muda itu meminta nasihatnya yang berharga lagi. Tapi alangkah jengkelnya dia, ketika Hasibuan menceritakan kesukarannya itu masih berkisar pada soal gadis itu juga.

“Jadi kau dituduh keluarganya telah menyembunyikan gadis itu? Dan kau dipaksa untuk mengawininya? Ini tentang suatu pemerasan. Ha,” kata orang tua itu. Kemudian disandarkannya lagi punggungnya ke kursi dan diisap lagi cangklongnya.”Keluarganya yang datang ke kantormu tadi itu, tentu tidak seorang, bukan? Tentu tiga orang sekurang-kurangnya.”

“Lima orang,” kata anak muda itu cepat.

“Semuanya tentu laki-laki. Lai-laki itu tentu seperti kingkong besarnya, bukan?”

“Demikianlah.”

“Nah ini terang suatu pemerasan. Tidak boleh tidak,” katanya lagi. Kemudian punggungnya yang tersandar ditariknya lagi. Dicabutnya cangklong dari mulutnya, lalu ditodongkan kepada Hasibuan, seraya berkata, “Kau seorang laki-laki. Seorang laki-laki tak dapat dipaksa oleh siapapun untuk mengawini seorang perempuan, kalau ia tak mau. Apalagi kalau laki-laki itu tidak pernah mengganggu perempuan itu. Kau tidak pernah mengganggu gadis itu,bukan?”

“Tidak pernah,” jawab anak muda itu.

“Nah, kau dipihak yang benar. Meski perkaramu ini akan sampai ke pengadilan sekalipun, tak satupun pengadilan yang mampu menghukum. Malah kau pun dapat menuduh mereka itu ke pengadilan. Jangan kau takut. Kau dapat mengadukan mereka itu ke polisi dengan tuntutan pemerasan dan ancaman. Nanti, bila perlu kutolong kau. Aku kenal kepala polisi di sini. Kenal baik. Jaksa, anak temanku sedari kecil. Nah, nasihatku dalam hal ini, jangan kautunjukkan dirimu mempan oleh gertakan kepada buaya-buaya itu. Jika perlu kau pun dapat mengeluarkan ancaman kepada mereka. Jangan persukar soal itu dalam pikiranmu. Persenang sajalah hati.”

Tapi hati anak muda itu tak dapat disenangkannya. Ia begitu gelisah. Ada hal-hal yang hendak dikatakannya lagi. Karena ia tak pernah menyerahkan gadis itu kepada polisi. Malah, baru saja ia menyuruh gadis itu pulang ke keluarganya di desa, gadis itu telah meraung-raung seraya memagut kakinya erat-erat. Meminta belas kasihannya agar membiarkan dia tetap di situ, di sampingnya. Dan hatinya jadi lintuh. Dan bersamaan dengan itu hatinya pun jatuh pula kepada gadis itu. Itu hendak dikatakannya kepada orang tua itu, tapi ia tak berani mengatakannya.

Kegelisahannya itu dilihatnya. Lalu ia berkata lagi meluncurkan nasihatnya: “Ah, tak usah gelisah, ikutilah nasihatku. Nasihat orang tua. Dan orang tua, seperti aku ini, telah lama hidup dan telah banyak pengalaman. Tak usah gelisah. Nanti aku tulis surat kepada kepala polisi, temanku itu. Aku minta ia menjaga keselamatanmu dari pemerasan dan ancaman itu. Senang sajalah.”

Namun hati anak muda itu belum juga tentram. Itu dilihat oleh orang tua itu, maka tersenyumlah ia. Seperti senyuman seorang insinyur melihat perdebatan kuli-kuli tentang suatu bangunan. Tapi sebagai orang tua yang telah banyak makan asam garam kehidupan, ia tidak hendak melecehkan kesukaran orang lain. Meski kesukaran itu hanyalah tetek bengek belaka. Dan senyumnya lekas-lekas dikulumnya. Dan sebagai orang tua, yang lebih tahu segala hal, ia dapat memahami betapa kesukaran itu mengamuki hati seseorang. Karena itu ia pun tahu bagaimana menasihatinya, hingga nasihatnya menjadi benar-benar berharga dan dapat diikuti dengan mudah. Menurut sangkanya, anak muda itu sedang dalam keadaan terjepit. Ia tahu, Hasibuan sedang dalam percintaan dengan seorang gadis. Itu dapat dilihatnya kemarin malam. Hasibuan berjalan demikian mesranya di samping gadis itu. Taksirannya, kalau gadis itu tahu betapa halnya Hasibuan dengan gadis desa yang ditemuinya di atas bis dulu itu, tentu si gadisnya ini akan menyayangkan hal-hal yang bukan-bukan.

“Haa,” katanya tiba-tiba. “Aku tahu kesukaranmu yang selalu menggelisahkanmu itu. Jangan kausangsikan. Ikutilah nasihatku. Aku dapat mengerti segala hati. Karena aku sudah tua, telah lama hidup dan sudah banyak pengalaman. Pada air mukamu yang muda itu, dapat aku baca semua. Mengaku sajalah kepadaku. Jangan bersembunyi lagi, kepada orang tua ini. Takkan baik akibatnya. Mengaku sajalah. Kau sedang bercinta dengan seorang gadis, bukan? Ah, jangan membantah. Kau bawalah gadis itu ke sini. Dan jangan lupa, gadis yang sedang mencuri hatimu itu. Bawa dia kesini. Nanti aku dapat menyelesaikan kesukaranmu dengan mudah. Ikutilah nasihatku. Nasihat orang tua yang telah banyak pengalaman ini. Bawa dia besok, ya.”

Gembira benar hati orang tua itu, ketika Hasibuan membawa gadis itu ke rumahnya untuk diperkenalkan kepadanya. Banyaklah bicara dan ketawanya. Banyaklah nasihat-nasihat tentang kehidupan rumah tangga. Di saat yang seperti itu, orang tua itu memanglah merupakan orang tua yang paling menyenangkan.

Dan ketika ia sedang berdua saja di ruang tamu, orang tua itu mengalih duduk di dekat Hasibuan. Seperti ada suatu rahasia saja, ia bicara dengan berbisik. “Pilihanmu tepat kali ini. Cantiknya, melebihi gadismu yang khianat dulu. Lihatlah. Tentang ini aku tidak silap. Perhatikanlah. Ketika dia datang tadi, ia salami aku. Itu biasa. Tapi dia terus menanyakan Ibumu dan menemuinya ke belakang. Ini luar biasa. Tertibnya bagus sekali. Kemudian dia sendiri yang menating teh buat kita, seperti rumah ini rumah orang tuanya saja. Ini sungguh menakjubkan. Anak baik dia ini. Dalam seribu, jarang satu seperti dia. Meskipun begitu, mataku yang tua ini, mata yang telah banyak melihat ini, masih dapat menangkap suatu kekurangannya. Dalam hal ini aku tak silap. Kekurangannya itu masih dapat diperbaiki. Asal dia mau mengikuti nasihat-nasihatku kelak.”

Setelah ia menghidupkan api cangklongnya, orang tua itu meneruskan bicaranya. “Dengarlah nasihatku lagi. Nasihat orang tua yang banyak pengalaman ini. Nasihatku, kawini dia lekas. Jangan tunggu lama. Jangan biarkan angin jahat masuk, seperti yang pernah kaualami dulu.”

“Memang rencanaku demikian, Pak,” kata anak muda itu.

“Bagus. Bagus. Tapi nasihatku dalam hal ini, jangan kau yang meminang dia ke orang tuanya. Birkan orang tuanya yang meminang kau, seperti adat Minangkabau,” kata orang tua itu.

“Keluarganya sudah datang kepadaku.”

Tiba-tiba orang tua itu seperti kena listrik. Ia merasa seolah-olah telah dilampaui begitu saja. Tapi pikirnya kemudian, barangkali Hasibuan belum memberi putusan kepada keluarga gadis itu. Tak percaya ia, bahwa Hasibuan akan memutuskan begitu saja tanpa minta nasihatnya.

“Tapi aku percaya,” katanya kemudian setelah ia dapat menguasai dirinya lagi. “Kau tentu cukup bijaksana, bukan?”

“Ya. Sebagaimana nasihat Bapak, perkawinan akan dilaksanakan dalam minggu ini juga.” Hasibuan berkata tanpa memperhatikan gelagat orang tua yang sekali lagi disengat listrik. Tak tahu ia muka orang sudah jadi pucat dan badannya gemetar. Lalu katanya lagi, “Gadis itulah yang kutemui dalam bis baru-baru ini, Pak.”

Sekarang listrik yang menyengat naik beberapa kilowatt lagi. Mukanya yang pucat jadi biru. Ditatapnya Hasibuan dengan mata tajamnya lalu cepat ia berdiri dari duduknya. Dan bibirnya bergerak-gerak seperti hendak memaki.

Tapi Hasibuan yang tidak melihat perubahan itu, bertanya lagi dengan wajah yang malu tersipu: “Apa nasihat bapak dalam hal ini?”

Sekali ini nasihat itu tak keluar dari melalui mulutnya yang peramah, seperti biasanya. Hanya pintu kamar tidurnya yang berdentang kencang dibantingnya dari dalam.

 

One Response

  1. Wah cerpen nya panjang juga..
    salam….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: